<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?><rss version="1.0"><channel><title>Diary of Bosco Hariyono</title><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/</link><description>Diary of Bosco Hariyono</description><language>en-us</language><item><title>Sukses Karena Melayani</title><description><![CDATA[- Paulus winarnoDi sebuah malam berguntur, tampak sepasang orang tua yang sudah lanjut usia dan kedinginan memasuki sebuah hotel kecil di kota Philadelphia. Keduanya berharap bisa menemukan sebuah kamar untuk menginap. "Maaf bapak dan ibu, kamar di hotel kami penuh, sama dengan hotel-hotel lainnya karena di kota ini sedang ada tiga konferensi besar," jawab sang penerima tamu. <BR>Setelah diam sejenak, sang penerima tamu ini kembali berujar, "Tapi saya tidak akan membiarkan bapak dan ibu kedinginan di luar pada pukul 1 pagi ini. Maukah bapak dan ibu tidur di kamar saya? Ya, sebuah kamar kecil yang dikhususkan bagi karyawan. Memang tidak seperti kamar hotel namun bapak dan ibu dapat beristirahat dengan tenang di dalamnya." Semula pasangan itu agak enggan untuk menerima tawaran ini, namun kembali sang penerima tamu ini berkata, "Jangan khawatirkan di mana saya akan tidur. Saya masih muda dan bisa tidur di mana saja." <BR>Keesokan harinya saat pasangan ini akan pergi, sang pria berujar kepada penerima tamu yang baik hati itu, "Anda seharusnya menjadi bos hotel terhebat di Amerika. Mungkin suatu hari nanti saya akan membangun sebuah hotel untuk Anda." Sang penerima tamu ini hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. <BR>Dua tahun kemudian, penerima tamu ini menerima sepucuk surat berikut sebuah tiket untuk berangkat ke kota New York. Pengirim surat tersebut adalah pria tua tersebut. Penerima tamu ini pun berangkat. Ia dijemput oleh sepasang orang tua yang pernah ditolongnya itu. Mereka kemudian menuju ke sebuah perempatan jalan besar. "Itu," kata si pria tua sambil menunjuk ke sebuah gedung besar, "adalah sebuah hotel yang saya bangun khusus untuk Anda kelola." <BR>"Anda pasti bergurau," kata sang penerima tamu. "Saya jamin, saya tidak sedang bergurau," kata si pria tua ini sambil tersenyum. Nama pria tua itu adalah William Waldorf Astor dan gedung besar itu adalah Waldorf  Astoria hotel yang pertama. Dan penerima tamu yang baik hati itu adalah George C. Boldt, manager pertama hotel itu. <BR>Cerita di atas kerap membuat saya "merinding". Betapa tidak, sebuah perubahan besar terjadi hanya karena hati yang mau melayani. Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Martin Luther King, Jr, "Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih." Tapi, benarkah kalau sikap yang mau melayani dapat membawa kita pada kesuksesan hidup? <BR>Suatu hari, saat berada di sebuah bank saya membaca sebuah tulisan di meja petugas customer service: Rule #1: If we don't take care of our customers, someone else will. Tulisan tersebut seakan menjadi pengingat baginya betapa pentingnya melayani nasabah. Tanyakan kepada banyak perusahaan besar, apa kunci prestasi mereka sehingga perusahaan mereka bisa bertahan di tengah maraknya persaingan bahkan terus bertumbuh. Saya sendiri berani memastikan bahwa salah satu kunci terpenting adalah kesediaan untuk melayani pelanggan. Tidak heran jika tema "kepuasan pelanggan" menjadi begitu penting dalam beberapa tahun terakhir ini. Perusahaan yang senantiasa mau mendengarkan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen niscaya akan lebih mudah dalam meraih dan mempertahankan kesuksesannya. <BR>Sebenarnya paradigma melayani bukanlah sesuatu yang baru. Lebih dari 2.000 tahun silam, seorang guru spiritual telah mengajarkan bahkan mempraktekkan hal yang sama. Dengan jelas Ia mengatakan bahwa siapa pun yang ingin menjadi terbesar harus mau menjadi pelayan. "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani," katanya kepada para muridnya. <BR>Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana agar kita juga bisa memiliki hati yang mau melayani? Pertama, pandanglah pekerjaan kita sebagai kesempatan untuk memuliakan nama Sang Pemberi Hidup. Kedua, pandanglah kehidupan ini sebagai kesempatan untuk membantu orang lain menjadi lebih baik. Dengan demikian, hidup Anda akan jauh lebih bermakna. Motivator kelas dunia, Zig Ziglar pernah berkata, "Anda bisa memperoleh apa pun dalam kehidupan ini sepanjang Anda juga mau menolong orang lain memperoleh apa yang mereka inginkan." <BR>Ketiga, sadarilah bahwa apa yang kita tabur akan kita tuai. Jika kita selalu melakukan yang terbaik, kita pasti akan menerima upahnya. Begitu pun sebaliknya! Sayangnya, para karyawan sering tidak menyadari kalau para pelangganlah yang menggaji mereka, bukan sang pemilik atau pemimpin perusahaan. Itulah sebabnya mereka kerap mengabaikan suara dan keluhan pelanggan. Padahal jika pelanggan diperlakukan dengan baik, semua akan menuai keuntungannya. Selamat melayani! *** <BR>* Paulus Winarto adalah pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller nasional (First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential dan The Leadership Wisdom). Ia dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id <BR>]]></description><pubDate>Wed, 21 Mar 2007 09:04:00 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/03/21/Sukses-Karena.html</link></item><item><title>Ciri-2 orang Sukses</title><description><![CDATA[Ciri-ciri Orang Sukses<BR><BR>Sudah pernah membaca buku tentang rahasia sukses menjadi kaya? Belum pernah? Cobalah baca beberapa. Di sana Anda pasti akan menemukan sejumlah rumus, bagaimana cara menjadi kaya. Baik rumus yang mudah, susah, maupun rumus yang "ah kok begini sih caranya". Seakan-akan hidup ini dapat diselesaikan dengan rumus. Kalau Anda punya uang sekian, simpan, bunga sekian persen, maka dalam sekian tahun uang Anda akan mencapai sekian.<BR>Kalau memang ada rumus hidup untuk menjadi kaya, saya kok yakin semua orang akan berlomba-lomba menggunakan rumus itu. Dan. semua orang menjadi kaya. Tapi ternyata tidak demikian kenyataannya.  Yang ada mungkin bukan rumus semacam  E=MC, tetapi resep-resep bagaimana agar hidup Anda dipenuhi keberhasilan. <BR>Menjadi kaya, biasanya identik dengan sukses. Dan kesuksesan, seringkali menjadi bibit buat kesuksesan berikutnya. Oleh karena itu, setiap yang mau kaya, harus rajin mencari titik-titik awal kesuksesan, sehingga bisa mengundang sukses yang lain.  Bagaimana caranya?<BR><BR>Pertama, Orang sukses biasanya mendapatkan dukungan dari orang-orang sekitarnya yang juga sukses.  Saya sarankan hati-hati bergaul dengan lingkungan, selektiflah, jangan asal bergaul. Bila lingkungan sekitar kita dipenuhi banyak orang sukses, saya yakin kesuksesan tinggal menunggu waktu buat kita. Tapi kalau Anda kebanyakan nonton sinetron, maka kepala Anda setiap hari hanya dipenuhi bidadari atau genderuwo. Kapan ya peri di sinetron itu membantu kita<BR>agar cepat sukses?<BR>Salah satu cara paling mudah agar Anda lebih cepat mencapai kesuksesan, adalah dengan menolong orang lain terlebih dahulu. Kok begitu? Ya begitu!!! Menolong orang lain agar mereka sukses. Dengan menolong orang lain, biasanya ide-ide Anda lebih leluasa terpancar dari pikiran, menemukan jalan keluar buat masalah orang lain. Kalau berpikir untuk memecahkan masalah sendiri, ampuuun, seakan-akan jadi orang paling menderita sedunia. Sulit. <BR>Ingat sistem yang berjalan di alam ini. Ingat hukum resiprokal. Apa yang kita tanam itulah yang akan dituai. Dengan Anda membantu orang lain untuk sukses, maka alam akan mengembalikan bibit tersebut, menjadi lahan kesuksesan buat Anda. Inilah awal kesuksesan.<BR><BR>Kedua,  Kesuksesan bisa timbul dari adanya imbalan dalam berbagai bentuk. Bisa berupa pujian atau reward atau berbentuk uang. Pujian atau uang, akan membuat seseorang lebih bersemangat dalam berkarya. Lalu dari mana datangnya pujian itu? Dari Anda sendiri. Caranya, biasakan Anda  memberikan pujian kepada Anda sendiri, ketika mendapatkan kesuksesan sekecil apapun.  Dengan<BR>demikian, Anda tidak perlu menunggu orang lain memuji, agar Anda lebih bersemangat menggapai kesuksesan. Bukankah motivasi terbaik lahir dari dalam diri kita sendiri?<BR><BR>Ketiga, Kesuksesan biasanya tergantung dari sistem yang berlaku dalam sebuah tatanan masyarakat.  Saya sering mengatakan, sistem yang dianut di Indonesia adalah sistem kapitalis. Para pemilik modallah yang diuntungkan oleh sistem kapitalis. Merekalah yang berhak mendapatkan profit usaha, bukan karyawan. Profit yang besar, pasti akan membuat Anda lebih<BR>bersemangat bekerja. Maka kalau Anda mau lebih cepat sukses, jadilah pemilik modal, jadilah pemilik perusahaan yang mempekerjakan banyak karyawan.  <BR><BR>Terakhir, Kesuksesan pasti akan mengundang kesuksesan lainnya. Itulah mengapa, saya menyarankan, bentuklah gelombang sukses! Bagaimana cara membentuk gelombang sukses? Mudah, ukurannya bukan lagi pada modal, atau dukungan orang lain, atau tergantung pengalaman. Tapi dimulai dari itikad baik dalam membantu orang lain.<BR><BR>salam,<BR>goenardjoadi goenawan<BR><BR>____________________________________<BR>]]></description><pubDate>Wed, 21 Mar 2007 08:50:33 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/03/21/Ciri-2-orang.html</link></item><item><title>sukses dalam 16 bulan</title><description><![CDATA[apa yang bisa dilakukan dalam 16 bulan? <BR>Halo The Profecers,<BR><BR>saya ingin sharing pengalaman saya di 16 bulan terakhir. Saya mulai<BR>menulis bulan Oktober 2005 persis pada saat kenaikan BBM 2x lipat.<BR>Sebelumnya profesi saya adalah Franchisor Rekaman Talent Box [search<BR>google: Rekaman Talent Box].<BR><BR>mengapa saya kok mulai menulis di Milis? Karena saya baru tahu<BR>ternyata orang-orang ribuan pada ngumpul di Milis, kalau tahu dari<BR>dulu, maka saya tidak perlu banting otak, peras tulang membesarkan<BR>bisnis saya mulai dari nol.<BR><BR>kembali ke tahun 2002 saat saya terakhir bekerja selama 12 tahun di<BR>Marketing FMCG, pengalaman saya menurut saya sudah cukup untuk<BR>membuat bisnis sendiri, betul? Salah.<BR><BR>Saya memulai bisnis Rekaman Talent Box dengan teramat sangat depresi,<BR>sudah dipersiapkan segalanya, customer tidak ada yang datang. Hingga<BR>ternyata dengan berjalannya waktu, pada Final AFI 2004 Tia menyanyi<BR>bersama SBY. Ada 10 juta penonton acara AFI, sejak itu customer<BR>datang antri, dan saya mulai masuk di berbagai majalah & koran.<BR><BR>kembali ke saat saya pertama menulis, saya bermaksud sharing<BR>pengalaman saya mencari uang. Istilahnya Menjadi Kaya.<BR><BR>Ada yang bilang, menjadi kaya itu serakah, pelit, sodok sana sodok<BR>sini, mengorbankan yang kecil. ternyata saya jelaskan satu persatu,<BR>sambutannya positif, mereka merasa seperti menemukan oasis ilmu<BR>entrepreneur.<BR><BR>dari tulisan saya yang sekitar 100 judul email, setelah 1 bulan<BR>[berarti menulis 3 judul per hari], saya diundang penerbit.<BR><BR>banyak yang bertanya kepada saya, mengapa kok pengalamannya dibagikan<BR>kepada semua orang? mengapa rahasianya kok dibuka kepada umum? waktu<BR>itu saya tidak memiliki pikiran negatif, saya hanya berusaha untuk<BR>menjawab pertanyaan.<BR><BR>bagaimana cara memulai bisnis<BR>bagaimana menarik rejeki<BR>apakah uang itu<BR>bagaimana caranya kita meningkatkan profile rejeki kita?<BR><BR>dengan harapan, semakin banyak orang yang bisa terangkat. pembaca<BR>email-email saya dan yang menghadiri seminar saya pertama kali<BR>seperti Hendy Kebab Turki Baba Rafi. Saya diundang ke Surabaya oleh<BR>7 orang, mereka mengumpulkan uang cukup untuk ticket, makan, taxi &<BR>hotel. Sekarang Hendy Kebab Turki Baba Rafi emmenangkan The Best<BR>Young Entrepreneur of the Year Majalah Business Week.<BR><BR>Yang lain Ronny, sekarang mengumpulkan organisasi yang anggotanya 300<BR>calon pedagang berkumpul belajar dagang bersama-sama gotong royong,<BR>sampai sekarang Ronny amsih sering sms.<BR><BR>Peserta seminar saya pertama salah satunya Dr. Subowo MBA, PhD. dan<BR>Ibu Lisa Nuryanti, dua-duanya Direktur di Combiphar dan mantan<BR>Direktur di John Robert Power. saya bingung kok dokter MBA dan S3<BR>Direktur utama datang menghadiri seminar saya?<BR><BR>sampai sekarang sudah berjalan 16 bulan, pertama kali buku saya<BR>terbit 11 bulan lalu saya keliling semua cara sudah saya coba sambil <BR>terus menulis, saya sudah menerbitkan 5 buah buku.<BR><BR>ada yang tanya, mengapa idenya kok dibagikan?<BR><BR>apa tidak habis?<BR><BR>Ternyata banyak orang tidak menyadari, bahwa menulis buku itu bukan<BR>seperti mengarang. Namun lebih seperti menyanyi atau melukis.<BR>Setelah selesai menyanyi, selalu ada perasaan ingin lebih sempurna,<BR>dan menerima input banyak orang, sehingga lain kali menyanyi dengan<BR>sepenuh jiwa.<BR><BR>ide itu bukan datang dari lampu aladin.<BR><BR>ide datang dari pertanyaan orang-orang.<BR><BR>apakah kepemimpinan itu?<BR><BR>saya mengatakan hidup ini bukan untuk kita, kita hanya menjalankan<BR>tujuan Tuhan menciptakan kita, yaitu menolong sesama.<BR><BR>apa betul?<BR><BR>harus betul, sebab pembaca buku saya membacanya keras-keras berulang-<BR>ulang,<BR><BR>apa betul?<BR><BR>pertanyaan berjalan terus,<BR><BR>ada yang bertanya, kalau kita ingin sukses dengan cara menolong orang<BR>lain, itu tidak ikhlas?<BR><BR>saya pelajari, apakah itu ikhlas,<BR><BR>bagaimana ikhlas secara Islam,<BR><BR>jawabannya tetap sama,<BR><BR>Bahwa kita harus meninggalkan ego.<BR><BR>Meninggalkan ego akan menemukan kehidupan kekal, surga itu sekarang,<BR>kalau kita menunggu nanti saat menunggu ajal, bisa kemungkinan besar<BR>kita tidak akan sampai kesana.<BR><BR>terus saya berpikir, siapa yang membaca buku-buku saya itu?<BR><BR>adakah gunanya?<BR><BR>ternyata, semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mendapat<BR>sambutan positif. Minggu lalu teman saya [menulis bareng, teman<BR>sekolah saya 22 tahun lalu] diundang lunch Pak Agung Adhiprasetyo CEO<BR>Kompas.<BR><BR>Kalau tidak menulis buku, mungkin kita harus menunggu 15 tahun lagi,<BR>saat Pak Agung pensiun baru bisa kenalan,<BR><BR>Saya bisa masuk Radio, masuk majalah, menjadi cover story Majalah Swa<BR><BR>http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?<BR>cid=1&id=5630&pageNum=2<BR><BR>Tanggal 23 Maret nanti diundang Dialog dengan 100 Staf Pengajar dan<BR>Manajemen Univ. Sahid Jakarta, tanggal 23 April memberikan kuliah<BR>umum kepada 300 mahasiswa FE Univ. Gunadharma di Depok.<BR><BR>Saya terus menulis, terakhir saya menulis Rakyat Indonesia hidup dari<BR>selisih harga, masuk ke Superkoran http://www.apakabar.ws/ secara<BR>rutin, dan mendapat respon dari teman sahabat,<BR><BR>muhammad asrofi <asrofi@...><BR><BR>Saya membaca banyak postingan Anda di beberapa milis yang isinya<BR>bagus-bagus. Lebih khusus lagi untuk postingan berjudul "Rakyat<BR>Indonesia hidup dari selisih harga", saya benar-benar acung jempol.<BR>judulnya menggelitik dan isinya menyengat. luar biasa.<BR><BR>selamat melanjutkan karya Anda. salam, asrofi<BR><BR>Dan saya terus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul,<BR><BR>mengapa?<BR><BR>Karena saya tiap hari menangis melihat penderitaan rakyat. Kalau saya<BR>bisa sedikit mengurangi kebuntuan, dengan saya menulis, itu sungguh<BR>karunia Tuhan, sungguh karunia Tuhan.<BR><BR>salam,<BR>Goenardjoadi Goenawan<BR>]]></description><pubDate>Wed, 21 Mar 2007 08:50:04 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/03/21/sukses-dalam-16.html</link></item><item><title>RAIH KESUKSESAN SEJATI DALAM HIDUP</title><description><![CDATA[Piramida 7 Kebutuhan Jiwa Yang Bahagia<BR>Raih kesuksesan sejati dalam hidup<BR><BR>Oleh: Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM.<BR><BR>Daftar Isi<BR><BR>Komentar<BR>Kata Pengantar<BR>Daftar Isi<BR><BR>Bagian 1. Pendahuluan<BR>1. Kebutuhan Menurut Abraham Maslow<BR>2. Kebutuhan Jiwa yang Bahagia<BR>3. Masalah bila Jiwa tidak bahagia<BR>a. Sakit Jiwa<BR>b. Bunuh Diri<BR>c. Narkoba<BR>d. Hidup kepepet<BR>4. Benefit meniti jalan kebutuhan Jiwa<BR>a. Hidup ini bukan untuk kita<BR>b. Jalan Mencari Rejeki<BR>c. The Power of Least Effort<BR>d. Rasa bahagia karena mengenal Jiwa<BR><BR>Bagian 2. Piramida Kebutuhan Jiwa yang Bahagia<BR>1. Kebutuhan untuk Didengar<BR>2. Kebutuhan untuk Terbebas dari Ambisi<BR>3. Kebutuhan untuk Menyembuhkan<BR>4. Kebutuhan untuk Mengerti Kebenaran<BR>5. Kebutuhan untuk Mengikuti Kata Hati<BR>6. Kebutuhan untuk Mencari Jati Diri<BR>7. Kebutuhan untuk Mencapai Kemuliaan<BR><BR>Bagian 3. Epilog<BR><BR>Bagian 1. Pendahuluan<BR><BR>Orang bilang ilham, aku bilang jiwa<BR>Orang bilang inspirasi aku bilang imajinasi<BR>Orang bilang belajar dari pengalaman aku bilang<BR>temukan kebenaran sejati<BR>Semua telah dicoba namun seolah-olah sia-sia<BR>Semua telah berusaha namun seolah-olah sungguh sulit<BR>melawan dunia<BR>Semua tidak mau mengerti kita<BR>Bahwa prinsipnya, dunia sungguh sulit untuk dikalahkan<BR>Hidup bukan antara aku dan dunia<BR>Namun antara kita sebagai anggota dari kehidupan<BR>Sehingga kita bisa menjadi bagian dari hidup<BR>Dan mengerti kemana hidup ini akan mengarah?<BR>Namun aku tak tahu...<BR>Bagaimana lagi yang harus aku lakukan...<BR>Hingga aku lelah<BR>Hingga aku menyerah<BR>Hingga aku sadar<BR>Bahwa semua itu bukan tentang aku<BR>Namun tentang dunia<BR>Namun tentang orang-orang lain<BR>Kemana harus aku cari jati diri?<BR>Jiwaku yang murni<BR>Yang mengerti kemana aku harus memilih?<BR>Apa yang harus aku perbuat?<BR>Kemana hati nurani aku cari?<BR>Semua itu bukan tentang aku<BR>Semua itu bukan tentang pengetahuan agamaku<BR>Namun tentang sejauh mana hubungan jiwaku dengan Sang<BR>Pencipta<BR>Namun tentang sejauh mana hidupku berarti bagi dunia<BR>Namun tentang sejauh mana aku mengerti arti hidup yang<BR>sesungguhnya<BR>Bahwa hidup tak perlu berusaha<BR>Bahwa hidup tak perlu memaksa<BR>Bahwa hidup tak perlu mengandalkan kekuatan dan<BR>kekuasaan<BR>Namun hidup sesungguhnya menjadi suatu semangat<BR>menggebu-gebu untuk berbuat bagi orang lain<BR>Goenardjoadi Goenawan<BR><BR>1. Kebutuhan Menurut A. Maslow<BR><BR>Piramida kebutuhan hidup manusia menggambarkan<BR>tahap-tahap yang dibutuhkan oleh manusia dalam<BR>menjalani kehidupannya. Salah satu yang paling<BR>terkenal dan sering dipakai oleh masyarakat adalah<BR>Piramida Kebutuhan Abraham Maslow. Kalau kita lihat,<BR>Kebutuhan kita menurut Maslow dimulai dari kebutuhan<BR>paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis, makan dan<BR>minum. Selanjutnya kebutuhan akan rasa aman, Rasa<BR>Cinta dan dimiliki. Selanjutnya menuju pada Kebutuhan<BR>akan Pengakuan. Akhirnya kebutuhan terakhir adalah<BR>mencapai Aktualisasi Diri atau Mencari Jati Diri.<BR><BR>Abraham Maslow <BR>(1908 - 1970)<BR><BR>Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada<BR>tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62<BR>tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan<BR>merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Masa muda<BR>Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena<BR>hubungannya yang buruk dengan kedua orangtuanya.<BR>Semasa kanak-kanak dan remaja Maslow merasa bahwa<BR>dirinya amat menderita dengan perlakuan orangtuanya,<BR>terutama ibunya.<BR>Keluarga Maslow amat berharap bahwa ia dapat meraih<BR>sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan<BR>kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang Hukum<BR>tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya<BR>mengambil bidang studi psikologi di University of<BR>Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun<BR>1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934.<BR>Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran<BR>psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia<BR>tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa<BR>mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan<BR>hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs<BR>(Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia<BR>termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan<BR>hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki<BR>tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah<BR>(bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi<BR>(aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut<BR>adalah sebagai berikut:<BR><BR>5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri <BR>4. Kebutuhan untuk dihargai<BR>3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi<BR>2. Kebutuhan akan rasa aman dan tentram<BR>1. Kebutuhan fisiologis / dasar<BR>Hirarki Kebutuhan Maslow <BR><BR>Namun ada sebuah loncatan pada Piramida kebutuhan yang<BR>paling tinggi. Kebutuhan Mencapai Aktualisasi Diri. <BR>Kebutuhan itu sama sekali berbeda dengan keempat<BR>kebutuhan lainnya, yang secara logika mudah<BR>dimengerti, namun mengapa setelah seseorang mencari<BR>pengakuan, mencari penghormatan, kok lalu mencari jati<BR>diri? Mengapa? Dan Bagaimana prosesnya? Seakan-akan<BR>ada missing link diantara Piramida ke-4 dengan Puncak<BR>Piramida ke-5. Seolah-olah terjadi lompatan logika.<BR>Pada saat Bill Gates mengundurkan diri dari Microsoft<BR>Corp. semua orang bingung. mengapa orang yang paling<BR>kaya sedunia, yang paling berkuasa dengan uangnya,<BR>yang paling berpengaruh, paling dihormati seluruh<BR>dunia karena prestasinya karena kekuatannya, tiba-tiba<BR>mengundurkan diri pada usia muda, dan lalu mau<BR>mengurusi yayasan sosial mengurusi korban HIV / AIDS. <BR>Ini yang menjadi suatu lompatan logika.<BR>Seolah-olah seluruh dunia terkejut. Mengapa? Untuk<BR>apa? Mengapa kok tiba-tiba seseorang bisa melepaskan<BR>diri dari dunia nyata, dunia dimana uang dan kekuasaan<BR>berbicara?<BR>Apa isi dunia kehidupan setelah uang dan materi?<BR>Bagaimana prosesnya Bill Gates tiba-tiba mencapai<BR>Aktualisasi Diri dengan tidak lagi peduli dengan<BR>Uangnya, dengan Kekuasaannya?<BR>Berarti ada Kebutuhan lain selain kebutuhan hidup kita<BR>untuk memiliki makanan, rasa aman, Cinta dan<BR>Pengakuan. Ada Piramida Kebutuhan lain selain<BR>kebutuhan Duniawi, yaitu Kebutuhan Jiwa.<BR>1. Kebutuhan hidup manusia menurut Abraham Maslow ini<BR>tidak bisa menjelaskan mengapa kenyataannya bahwa<BR>orang yang miskin banyak yang bahagia, mereka tidak<BR>terpengaruh dengan perbedaan jenis makanan, minuman<BR>atau rumah yang ditempati, seakan-akan ukuran<BR>kebutuhan dasar hidup bukanlah itu.<BR>2. Selain itu, juga banyak orang yang sangat<BR>membutuhkan rasa Cinta, semuanya sangat menyukai untuk<BR>membahas masalah Cinta, mengekspresikan Cinta, namun<BR>semakin dirasakan, Cinta semakin membuat rasa sakit. <BR>Aneh, manusia butuh rasa Cinta tapi semakin mendalam<BR>rasa Cinta yang dimiliki semakin menyakitkan<BR>akibatnya, seolah-olah bukan itu yang sejati. Bukan<BR>itu yang sesungguhnya dibutuhkan. Bukan Cinta yang<BR>begitu. Lalu Cinta yang bagaimana?<BR>3. Seharusnya, hakekat hidup Manusia adalah untuk<BR>memenuhi Kebutuhannya, dengan demikian seharusnya<BR>orang yang telah memenuhi Kebutuhannya dianggap lebih<BR>tinggi, atau dihormati. Kenyataannya orang Kaya,<BR>orang yang mengagung-agungkan Cinta malah dibenci. <BR>Kalau kebencian terhadap Orang Kaya sudah jelas. <BR>Namun selain itu, juga orang-orang yang mengagungkan<BR>Cinta seperti Julius Caesar malah dibunuh. Malah<BR>tidak dihormati. Lalu kalau demikian, buat apa<BR>manusia memenuhi Kebutuhannya kalau dengan demikian<BR>semakin dibenci? Untuk apa? Seolah ada paradoks<BR>dalam hal ini.<BR>4. Kitab suci mengatakan bahwa "Manusia tidak hanya<BR>makan dari roti". Nah, kalau manusia tidak hanya<BR>membutuhkan roti untuk makanan dalam hidup, lalu apa<BR>kebutuhan manusia yang sesungguhnya?<BR>People conform to<BR>the Laws of the Earth.<BR>The Earth conforms to<BR>the Law of Heaven.<BR>Heaven conforms to<BR>the Way (Tao)<BR>The Tao conforms to<BR>its own nature.<BR>-Lao Tzu<BR><BR>2. Kebutuhan Jiwa<BR><BR>Apakah Kebutuhan Jiwa itu? Mengapa kita perlu<BR>mengerti Kebutuhan Jiwa kita? Untuk apa? Dan apa<BR>peranannya dalam mengembangkan diri kita seutuhnya<BR>sehingga kita bisa tahu kemana jalan hidup menuju,<BR>sehingga kita tidak tersesat.<BR>Semua orang tahu bahwa Kebutuhan dasar dalam hidup<BR>adalah Makanan dan Minuman. Maka semua orang<BR>berbicara mengenai Kebutuhan Fisik Minimum, Upah<BR>Minimum, atau Tunjangan Sosial. Semua tahu apa<BR>akibatnya yang terjadi bila Rakyat lapar.<BR>Namun itu adalah menyangkut Kebutuhan Diri manusia<BR>sebagai Ego.<BR>Sesungguhnya selain EGO, manusia juga memiliki Jiwa. <BR>Jadi Tubuh Manusia itu diisi oleh dua hal yang<BR>berbeda, yaitu Ego and Jiwa.<BR>Ego adalah mementingkan diri sendiri. Dorongan<BR>terbesar setiap makhluk hidup adalah dorongan mencari<BR>makan. Semua makhluk hidup begitu. Namun Manusia<BR>selain dikaruniai EGO / Nafsu, juga dikaruniai Akhlak<BR>/ Jiwa. Dengan demikian Manusia memiliki perbedaan<BR>dengan Binatang, misalnya. Sosok Jiwa bagi manusia<BR>inilah sebagai pemilik Tubuh kita yang sesungguhnya.<BR>Seperti misalnya ada sebuah Rumah yang ada Pemiliknya<BR>namun ada yang mau Mengontrak. Siapakah yang paling<BR>mengerti kebutuhan Rumah tersebut? Pengontrak atau<BR>Pemilik sesungguhnya? Tentulah sebagai Pemilik asli<BR>dari Tubuh kita, maka Jiwa kita lah yang sesungguhnya<BR>sebagai Pemilik Tubuh kita yang paling mengerti<BR>kebutuhan hidup kita. Bukan kebutuhan Makanan atau<BR>minuman dalam hal ini, namun kebutuhan akan Jiwa yang<BR>Bahagia.<BR>Bahagia?<BR>Benarkah Kebutuhan hidup yang sesungguhnya adalah Jiwa<BR>yang Bahagia? Kemana kita mencari Kebahagiaan? <BR>Bagaimana caranya kita Mencapai Kebahagiaan Jiwa<BR>dengan cara Memenuhi Kebutuhan Jiwa? Nourishing The<BR>Soul?<BR>• Apa akibatnya bila kita tidak memenuhi Kebutuhan<BR>Jiwa yang Bahagia?<BR>• Apa manfaatnya bila kita memenuhi Kebutuhan Jiwa<BR>yang Bahagia?<BR>• Apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk<BR>memenuhi Kebutuhan Jiwa yang Bahagia?<BR>Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana caranya<BR>Mengenal Jiwa kita? Bagaimana caranya meningkatkan<BR>spiritualitas kita? Banyak yang berpikir bahwa<BR>meningkatkan Spiritualitas adalah dengan cara-cara<BR>lewat pengetahuan agama semata. Sebenarnya hidup kita<BR>ini memiliki dua hal yang bertentangan. Seolah-olah<BR>ada dua kehidupan, yaitu:<BR>1. Kehidupan duniawi, yaitu lewat Ego kita<BR>2. Kehidupan surgawi lewat Jiwa kita<BR>Dengan demikian seperti pengalaman petualangan<BR>menonton bioskop, ada yang satu berkomentar <BR>• "Mengapa kok filmnya kabur?" Dia tidak mengerti<BR>jalan cerita film tersebut. <BR>• Sedangkan yang lainnya mengatakan "wow, filmnya luar<BR>biasa, sungguh menegangkan, sungguh indah".<BR>Ternyata orang yang pertama lupa memakai kacamata 3<BR>dimensi.<BR>Demikian pula seorang yang tidak mengenal Jiwanya,<BR>maka hidup seolah-olah menjadi kabur, menebak-nebak<BR>dan kadang tepat, kadang meleset. Dia hanya<BR>mengharapkan kemungkinan untuk melalui jalan yang<BR>benar karena pandangannya kabur. Dia bingung tidak<BR>mengerti bagaimana jalan cerita hidup sesungguhnya.<BR>Pada saat kita mendalami pengetahuan agama, kita<BR>diberi penjelasan dengan bahasa dan logika yang<BR>berbeda dengan kenyataan duniawi. Yang satu duniawi,<BR>yang lain surgawi, bagaimana kita dapat mengerti?<BR><BR>3. Masalah yang timbul bila Jiwa tidak bahagia<BR><BR>1. Sakit Jiwa.<BR>• Mengapa seseorang menjadi Sakit Jiwa?<BR>• Apanya yang kurang sehingga dia menjadi Sakit Jiwa?<BR>• Apakah karena tekanan hidup?<BR>• Apakah karena kemiskinan?<BR>• Apakah karena putus cinta?<BR>Ada fenomena seseorang yang dulu sangat terkenal,<BR>namanya Jusuf Randy, saat ini telah berumur 64 tahun<BR>dan telah 20 tahun dikucilkan atau diusir dari Negara<BR>Indoensia. Dalam komunikasi email Jusuf Randy<BR>menggunakan nama Mang Ucup (istilah Sunda untuk<BR>Jusuf). Satu hal yang dia rasakan sangat butuh adalah<BR>perasaan untuk Didengar. Oleh karena itu dia sangat<BR>bahagia ketika bisa saling berkomunikasi dengan<BR>bangsanya sendiri, walaupun selama 20 tahun ini<BR>dikucilkan dan terpaksa hidup di Holland dan menjadi<BR>warga Negara Jerman. <BR>Berikut ini adalah email pribadi dari Bapak Jusuf<BR>Randy di Holland.<BR><BR>Japri sejenak<BR>MANG UCUP <MANGUCUP@orange. nl><BR>Salam sejahtera untuk sdr. Gunawan yang baik<BR>Pertama dengan ini saya hendak mengucapkan banyak<BR>terima kasih atas kiriman email maupun sapaannya yang<BR>begitu hangat dan begitu penuh dengan rasa kasih dan<BR>persahabatan. Email sdr. Gunawan telah menjadi berkat<BR>bagi mang Ucup yang telah saya simpan di tempat yang<BR>paling istimewa. Semoga hubungan kita tidak berakhir<BR>hanya sampai disini saja, melainkan masih memanjang<BR>sampai seratus tahun yang mendatang.<BR>Saya akan merasa sangat sedih sekali, apabila<BR>kehilangan sdr. Gunawan sebagai seorang sahabat, sebab<BR>mencari sahabat yang baik dan begitu penuh dengan<BR>perhatian seperti sdr. Gunawan itu sukar sekali, lebih<BR>mudah mendapatkan 100 ribu musuh daripada seorang<BR>sahabat yang baik.<BR>Apabila ada sesuatu yang bisa saya bantu sekarang ini<BR>ataupun di kemudian hari janganlah ragu-ragu untuk<BR>mengutarakannya, disamping itu apabila ada kesempatan<BR>untuk berkujung liburan ataupun tugas ke Eropa<BR>janganlah lupa untuk mampir berkujung ke gubuk kami.<BR>Kedatangan sdr. Gunawan kami tunggu.<BR>Salam akrab dengan penuh kasih dan doa untuk sdr<BR>Gunawan sekeluarga dari sobat tua di Holland<BR>Mang Ucup <BR>Membaca tulisan dari Bapak Jusuf Randy menunjukkan<BR>bahwa hubungan Jiwa sungguhlah terasa sangat penting. <BR>Kerinduannya akan seorang sahabat sehati sangatlah<BR>mendalam, sehingga hanya satu surat saja bisa<BR>memberikan pengaruh atau response yang begitu<BR>mendalam. Inilah menunjukkan betapa hebatnya betapa<BR>besarnya kebutuhan untuk Didengar. Hatinya akan sedih<BR>bila kehilangan setitik kehangatan yang „menjadi<BR>berkat bagi mang Ucup yang telah disimpan di tempat<BR>yang paling istimewa. Semoga hubungan kita tidak<BR>berakhir hanya sampai disini saja, melainkan masih<BR>memanjang sampai seratus tahun yang mendatang."<BR>„Mang Ucup akan merasa sangat sedih sekali, apabila<BR>kehilangan sdr. Gunawan sebagai seorang sahabat, sebab<BR>mencari sahabat yang baik dan begitu penuh dengan<BR>perhatian seperti sdr. Gunawan itu sukar sekali, lebih<BR>mudah mendapatkan 100 ribu musuh daripada seorang<BR>sahabat yang baik."<BR>Lalu apa perasaannya Eddy Tansil, Gunawan Santosa,<BR>Marimutu Sinivasan, dan lain-lain bila harus<BR>dikucilkan? Mungkin mereka terpaksa operasi Face off<BR>mengganti wajahnya supaya untuk dapat memenuhi<BR>Kebutuhannya untuk Didengar, untuk berhubungan dengan<BR>masyarakat.<BR>Ini menunjukkan bahwa untuk menjadi berkat, kita tidak<BR>perlu melakukan suatu hal luar biasa, atau hal yang<BR>besar, namun hal-hal sederhana mampu menjadi berkat<BR>bagi orang lain. Pepatah mengatakan, "tidak masalah<BR>besar atau kecil, bantuan sungguh terasa besar artinya<BR>pada saat dibutuhkan."<BR>2. Bunuh diri<BR>Bunuh Diri, Luar Biasa, dan Masih Misteri<BR>Sartono Mukadis<BR>Apakah pelaku bunuh diri bisa dikatakan mempunyai<BR>penyakit kejiwaan? Apakah hal itu dilakukan dengan<BR>spontan? Mengapa orang sampai bisa menyiapkan segala<BR>sesuatunya sebelum bunuh diri?<BR>Dalam teori psikologi perilaku, bunuh diri sebenarnya<BR>adalah kepanikan atau letupan sesaat, sebuah dorongan<BR>yang tiba-tiba. Antara terpicu dan bertindak hanya<BR>berlangsung sekejap, dalam hitungan detik, menit, atau<BR>jam, namun tidak dalam hitungan hari. Orang berada<BR>dalam emosi yang sangat memuncak sebelum akhirnya dia<BR>mengakhiri hidupnya. Jarang sekali orang sampai<BR>berpikir dua sampai tiga kali sebelum bunuh diri,<BR>kecuali ada obsesi kompulsif yang terus berulang. Ia<BR>terobsesi untuk mengakhiri hidupnya.<BR>Belum ada satu pun literatur yang menyebutkan teori<BR>mengenai bunuh diri yang dipersiapkan, namun ternyata<BR>hal itu ada. Saya juga tidak tahu mengapa ada orang<BR>yang berpikir dulu, mengambil racun, membeli tambang<BR>ke pasar, menyimpul tambang itu, mencari plafon yang<BR>kuat.<BR>Mengapa ada orang memilih melompat dari bangunan<BR>tinggi, sementara orang lain memilih membakar diri?<BR>Bisakah Anda menjelaskannya?<BR>Itu tergantung pengalaman, pendidikan, dan kedekatan<BR>atau kesempatan. Kalau dia tinggal di gedung tinggi<BR>dan tidak ada alat untuk bunuh diri di saat dia sedang<BR>dalam kondisi emosi yang memuncak, yang paling mudah<BR>adalah meloncat. Namun, pada orang lain, mungkin<BR>dipengaruhi oleh buku yang kerap dibacanya atau<BR>tayangan yang kerap ditontonnya.<BR>Apakah setiap orang memiliki kecenderungan untuk bunuh<BR>diri?<BR>Bunuh diri bukan hanya bisa dilakukan orang yang sakit<BR>patologis saja, tetapi juga bisa dilakukan oleh orang<BR>normal. Setiap orang normal juga punya kecenderungan<BR>untuk bunuh diri. Tergantung seberapa besar tingkat<BR>kelenturan kepribadian yang dimiliki seseorang. Orang<BR>yang kepribadiannya kaku lebih mudah melakukan bunuh<BR>diri jika ada perubahan-perubahan tidak menyenangkan<BR>yang terjadi pada dirinya. Sedangkan orang dengan<BR>kepribadian fleksibel lebih bisa mengendalikan<BR>kekecewaannya.<BR>Misalnya, saya punya uang Rp 1.000 saja masih bisa<BR>ketawa- ketawa, sedangkan orang lain kehilangan Rp 1<BR>miliar saja sudah merasa bangkrut dan bisa bunuh diri.<BR>Ambang kelenturan seseorang itu macam-macam. Semakin<BR>kaku semakin mudah patah.<BR>UNTUK mengatasi tekanan sosial dan ekonomi di Jakarta<BR>ini, apa yang harus kita lakukan?<BR>Adaptasi. Artinya, jangan terlalu kaku dalam<BR>menghadapi hidup ini. Hidup tak bisa dipandang secara<BR>hitam putih. Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup<BR>kita harus bisa disikapi secara fleksibel. Dengan cara<BR>seperti itu kita akan survive dari tekanan-tekanan<BR>hidup.<BR>Bagaimana caranya menanamkan kelenturan pada<BR>seseorang.<BR>Kelenturan itu bisa diajarkan sejak masa kanak-kanak.<BR>Ketika anak sudah memasuki taman kanak-kanak harus<BR>diajarkan untuk bisa mengatasi masalahnya sendiri.<BR>Jangan mau "diperas" anak yang meminta agar semua<BR>keinginannya selalu dipenuhi. Dengan cara seperti itu,<BR>anak akan terbiasa berpikir kreatif alternatif. Anak<BR>dibimbing untuk mencari jalan keluar lain untuk<BR>mengatasi masalahnya. Kelak jika dewasa, ia akan<BR>memiliki ambang kelenturan yang tinggi.<BR>Untuk melatih kelenturan, anak bisa diajarkan untuk<BR>berani menertawakan diri sendiri. Cara itu dilakukan<BR>agar anak terlatih menghadapi kegagalan. Yang kedua,<BR>jangan pernah membanding-bandingk an anak dengan anak<BR>lain karena hanya akan memunculkan tekanan psikologis.<BR>Yang benar, bandingkan anak itu dengan dirinya<BR>sendiri. Misalnya, "Nak, mengapa nilainya sekarang<BR>lima? Cawu lalu nilaimu bisa tujuh, kan". Jangan<BR>sampai bilang, mengapa nilai anak itu lebih jelek<BR>dengan tetangga sebelah, misalnya.<BR>Banyaknya kasus bunuh diri mengindikasikan apa?<BR>Bunuh diri menandakan masyarakat kita sedang sakit.<BR>Kasus bunuh diri ini banyak terjadi di kota-kota<BR>besar.<BR>Mengapa di kota besar seperti Jakarta?<BR>Jakarta ini lebih berbentuk kerumunan (crowd) sehingga<BR>banyak orang yang kehilangan komunikasi satu sama<BR>lain. Bandingkan dengan orang yang hidup di kampung<BR>atau pedesaan. Dengan budaya seperti petan (mencari<BR>kutu rambut) yang mereka miliki, masing-masing orang<BR>bisa mengungkapkan persoalan yang dihadapinya dengan<BR>orang lain. Orang bisa mendengarkan dan didengarkan.<BR>Di Jakarta, jutaan orang seolah tercerabut dari<BR>akarnya. Keakraban antarwarganya kurang terjalin<BR>dengan baik. Sempitnya ruang terbuka yang bisa<BR>dimanfaatkan oleh warga untuk bersosialisasi ikut<BR>memengaruhi itu. Sedangkan bentuk komunitas sekarang<BR>ini lebih bersifat formal dan kurang bisa<BR>mengakomodasi kebutuhan psikologis anggotanya.<BR>Alangkah baiknya jika radio-radio swasta lebih sering<BR>mengudarakan acara curhat, lebih bicara dari hati ke<BR>hati.<BR>Budaya ngrumpi itu sebenarnya baik, namun ngrumpi di<BR>Jakarta sudah mengalami metamorfosis, dan lebih kepada<BR>obrolan kosong. Tidak ada sharing dan caring.<BR><BR>Penjelasan dari Sartono Mukadis tersebut menjelaskan<BR>bahwa ada kecenderungan orang-orang yang tercerabut<BR>dar akarnya, keakraban antar warga yang kurang<BR>terjalin dengan baik. Orang butuh mendengarkan dan<BR>didengarkan. Kebutuhan ini menjadi penting, dan<BR>adanya kekurangan dalam memenuhi kebutuhan ini bisa<BR>menyebabkan tidak bahagia jiwanya, dan kecenderungan<BR>bunuh diri di kota besar.<BR>3. Narkoba<BR>Coba anda perhatikan foto-foto berikut ini. Manakah<BR>yang merupakan foto Whitney Houston? Yang pertama? <BR>Atau yang kedua? Penyanyi terkenal di dunia Whitney<BR>Houston telah memenangkan beberapa Grammy Awards,<BR>lagunya paling terkenal adalah I Will Always Love You<BR>ketika bermain dalam film The Body Guard. Saat ini<BR>Whitney menjalani rehabilitasi Narkoba. Anda benar,<BR>kedua foto di bawah ini adalah foto-foto Whitney<BR>Houston ketika terserang Narkoba, dan foto sebelumnya<BR>tahun 2001. Sungguh sangat disayangkan bahwa pada<BR>umur 40 tahun, usia yang tergolong muda, hidupnya<BR>hancur hanya karena tidak mampu meninggalkan Ego diri<BR>pribadinya.<BR><BR>Tahun 2006<BR><BR>Tahun 2001<BR><BR>Whitney won't stay off the drugs. It's every single<BR>day. It's so ugly. Everyone is so scared she is going<BR>to overdose." In a shocking interview, the mother of<BR>six told how Whitney spends days locked in her bedroom<BR>amid piles of rubbish.<BR><BR>Whitney Houston Checks Into Drug Rehab Facility For<BR>The Last Time, Again<BR>Going to rehab again for the "last time", Whitney<BR>Houston entered a drug rehabilitation facility this<BR>week to help her overcome the problem she does not<BR>have with drugs. <BR>"I don't have a problem with drugs," stated Whitney<BR>Houston, visibly under the influence of Marijuana,<BR>"The media is making things up again. I never had any<BR>problems with drugs. I'm so hungry now. I'm really<BR>hungry now. Does anyone have anything to eat?" <BR>In January 2000, Whitney Houston was caught with<BR>Marijuana in Hawaii's International Airport. In<BR>December 2002, she admitted on ABC that she abused<BR>drugs in the past, but she was "all better now". <BR>"Yes. Whitney does have some issues with drugs."<BR>Stated Nancy Seltzer, Whitney Houston's publicist,<BR>"But she has a reason. She has horrible life. Imagine<BR>being the niece of a famous singer, surrounded by<BR>talented people constantly, being given the gift of a<BR>wonderful voice and great talent, being extremely<BR>beautiful, making millions of dollars, selling<BR>millions of records and living in a wonderfully huge<BR>house always surrounded by glamorous people. How can<BR>you blame her? Of course with problems like that, the<BR>only thing she can do is turn to drugs. Normal people<BR>just don't understand the pressures of everyday life."<BR>Sungguh sulit dibayangkan, penyanyi paling terkenal di<BR>dunia hidupnya bisa hancur dalam waktu begitu singkat.<BR>Contoh lain adalah Mike Tyson. Berikut ini adalah<BR>kisah hidup Mike Tyson, mantan Juara Dunia Tinju kelas<BR>berat.<BR><BR>Mike Tyson<BR>1984: Jim Jacobs menjadi manajer setelah D'Amato<BR>meninggal. Tyson baru kehilangan kesempatan untuk ikut<BR>team Olimpiade United States . <BR>1985: Memulai karir professional dengan meng-KO pada<BR>ronde pertama Hector Mercedes. <BR>1986: Pada umur 20 tahun dia menjadi juara dunia<BR>tinju kelas beratdengan meng-KO Trevor Berbick pada<BR>ronde kedua untuk memenangkan juara WBC. <BR>1987: Mengalahkan James 'Bonecrusher' Smith dan<BR>menjadi juara dunia tinju WBA kelas berat. Ketika dia<BR>memenangkan juara IBF title melawan Tony Tucker, Tyson<BR>menjadi juara dunia kelas berat yang sesungguhnya. <BR>8 February 1988: Menikahi aktris Robin Givens. <BR>1988: Robin Givens dan keluarganya menuntut Tyson<BR>karena kekerasan. <BR>1990: Dalam kesedihan luar biasa karena dikalahkan<BR>KO oleh James 'Buster' Douglas pada ronde ke-10 di<BR>Tokyo dan kehilangan gelar juara dunia kelas berat. <BR>1991: Bertemu Desiree Washington, Kontestan Miss<BR>Black America berumur 18 tahun, yang menuduh Tyson<BR>memperkosa dia. Tyson terbukti memperkosa dan<BR>dipenjara selama 6 tahun. <BR>19 August 1995: Mengalahkan Peter McNeeley dalam 89<BR>detik di Las Vegas setelah McNeeley didiskualifikasi. <BR>Mengalahkan Buster Mathis Jnr di Philadelphia dengan<BR>KO pada ronde ke-3. <BR>1996: Kalah dari Evander Holyfield  kehilangan<BR>gelar WBA and WBC. Meraih kembali gelar WBC dengan 3<BR>rondemelawan Frank Bruno di Las Vegas. Meraih kembali<BR>gelar juara WBA dengan mengalahkan Bruce Seldon KO<BR>ronde ke-1namun 2 minggu kemudia dia kehilangan gelar<BR>WBC karena menghindar melawan Lennox Lewis. <BR>9 November 1996: Kalah dan kehilangan gelar WBA<BR>melawan Evander Holyfield pada ronde ke-11. <BR>28 June 1997: Bertanding ulang untuk gelar WBA Tyson<BR>didiskualifikasi pada ronde ke-3 karena menggigit<BR>telingaEvander Holyfield. Dia didenda $3 juta<BR>kehilangan ijin bertanding. <BR>16 January 1999: KO pada ronde pertama melawan<BR>petinju South Africa Francois Botha di Las Vegas. <BR>6 February 1999: Tyson dipenjara 1 tahun karena<BR>menyerang 2 pengendara motor. Melempar TV dalam<BR>penjara dihukum 25 hari dalam penjara solitary. <BR>24 May 1999: Tyson dibebaskan secara bersyarat dari<BR>penjara, setelah melewati kurang dari sepertiga dari<BR>masa 1 tahun hukuman. <BR>BBC News Online<BR><BR>Mike Tyson saat ini umurnya 40 tahun telah sadar bahwa<BR>karirnya bertinju telah usai, pernah menjadi Juara<BR>dunia tinju paling muda se dunia, Mike Tyson saat ini<BR>sedang berusaha minta pengembalian pajak ke Negara<BR>yang telah dia bayarkan pada masa jayanya. Namun<BR>usaha tersebut adalah mustahil.<BR>Banyak sekali contoh-contoh kehidupan orang-orang<BR>terutama artis, atlet olah raga dan tokoh lainnya yang<BR>mengalami sukses namun semuanya menjadi sia-sia bila<BR>mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan jiwanya,<BR>kebutuhan untuk meninggalkan ambisinya, meninggalkan<BR>ego dirinya sendiri.<BR>4. Hidup kepepet<BR>Sering kita merasa, hidup ini penuh tekanan, penuh<BR>beban dan solah-olah kita merasa hidup kepepet.. hidup<BR>penuh keterpaksaan. .<BR>Rasanya seperti taksi, setoran PLN, setoran Citibank,<BR>setoran PAM, belum lagi Telkomsel... sepertinya hidup<BR>ini penuh dengan beban yang tidak mau istirahat..<BR>Pepatah mengatakan bahwa<BR>"seseorang tidak dapat memperoleh keuntungan yang<BR>besar bila mau cepat, atau tidak mengerti hidup.."<BR>Hidup kita ini sepertinya selalu urgent, selalu<BR>mendesak, selalu terpaksa, mau diterusin kok lumpur<BR>makin dalam mau balik takut kecebur selokan lumpur...<BR>Lalu ada yang bilang...<BR>"Hidup jangan kepepet?"<BR>Bagaimana?<BR>Pernahkah kita memikirkan.. . hidup kita ini<BR>seolah-olah selalu digenangi lumpur, dan hidup<BR>seolah-olah selalu di pengungsian, dan kita hanya<BR>menyalahkan orang-orang kaya yang hidupnya<BR>berkelebihan?<BR>Ataukah, bisakah kita hidup merdeka, terlepas dari<BR>beban? dan hidup bebas berkarya menurut kata hati<BR>kita?<BR>Pernahkah kita berpikir apa penyebab semua<BR>keterpaksaan ini?<BR>1. Kita nonton TV acaranya kalau tidak anak tiri yang<BR>diperkosa bapak tirinya, atau mengapa aku tumbuh<BR>menjadi banci? Isinya bapaknya gebukin anak<BR>laki-lakinya setiap hari, atau suami selingkuh dengan<BR>istri muda.... Rasanya hanya 5 menit saja, kita merasa<BR>mau muntah... Bagaimana tidak tertekan kalau setiap<BR>hari kita dijejalin acara begitu?<BR>Kita ini hidup bukan begitu..... Hidup yang<BR>sesungguhnya adalah bagaimana merawat mawar, melati,<BR>kamboja, atau merawat kucing yang sehat, bukannya<BR>gebukin anak kandung kita, apa kita sudah edan? <BR>Makanya jangan nonton TV, apalagi setiap 15 menit kita<BR>dijejalin dengan iklan handphone baru, sepeda motor<BR>baru, rokok baru, aduh..... Bagaimana tidak kepepet?<BR>Sebetulnya kita ini memepetkan diri sendiri dengan mau<BR>dijejali iklan konsumtif yang perucuma tidak berguna. <BR>Coba kita pikir, apa bedanya Suzuki Smash, Honda Supra<BR>Fit, Yamaha Jupiter MZ atau Suzuki Scorpio? Apa kita<BR>mau terbang kecepatan 250 KM per jam? Semua itu<BR>sebenarnya sama saja, hanya ego kita saja yang maunya<BR>membeda-bedakan. Hakekatnya sama saja.<BR>2. Kita merasa hidup ini tergantung uang... Padahal<BR>sesungguhnya uang itu sama saja, baik itu Rp<BR>10,000,000 atau Rp 10 Milyar atau Rp 100 Milyar,<BR>bedanya hanya nolnya saja, tapi rasanya sama saja. <BR>Punya uang Rp 10 juta kita mikir aduh gak cukup ke<BR>Thailand? <BR>Punya uang Rp 100 juta kita mikir aduh gak cukup beli<BR>Toyota Fortuner ...<BR>"Uang itu satuannya bukan Rupiah atau Milyar tapi<BR>satuannya adalah gaya hidup. semakin besar uangnya<BR>semakin tinggi gaya hidupnya, jadi hasilnya sama<BR>saja." <BR>Orang yang punya Rp 10 Milyar akan sibuk berangkat ke<BR>Las Vegas, ujung-ujungnya juga habis sebulan, sama<BR>dengan kita habiskan Rp 2 juta habis sebulan juga.. <BR>Orang miskin tidak pernah merasa problem kalau dia<BR>melihat uang dengan pecahan Rp 1000. bayangkan, berapa<BR>banyak uang Rp 500,000 kalau dipecah Rp 1000an? <BR>banyak banget.,..<BR>Orang kaya satuannya bukan Rp 1000 tapi K. Artinya<BR>apa? 1 K itu artinya US$10,000. Jadi kalau uang<BR>hanya Rp 2 Milyar itu adalah 20 K.<BR>Ngomongnya.. . aku dapat proyek, tapi tidak aku ambil<BR>karena dibawah 2 K. artinya dibawah US$ 2 Kilo, atau<BR>US$ 20,000 atau Rp 200,000,000. duit segitu juga<BR>terasa kecil... hanya 2 K.. akhirnya duit itu sama<BR>saja, orang kecil melihatnya Rp 1000an orang besar<BR>melihatnya berapa K?<BR>3. Kita merasa bahwa selalu ada yang harus<BR>ditaklukkan. <BR>Waktu sekolah kita merasa harus mengalahkan teman2<BR>sekelas, menjadi Ranking 10 besar. di kantor apalagi,<BR>rasanya office politic menjadi makanan sehari-hari<BR>menjadi mantra untuk mengalahkan pihak lawan.<BR>Dan kita cenderung untuk mengomentari ketidak adilan. <BR>Rasanya kalau lumpur Sidoarjo kita tumpahkan di depan<BR>Kantor Menko Kesra kita menjadi puas, kalau perlu<BR>lumpurnya kita semprotkan saja.... Dan kita selalu<BR>menyalahkan pihak yang Otoriter, pihak yang menindas..<BR>Namun kita tak berdaya.. kita hanya bisa menyalahkan<BR>Jusuf Kala dan Amerika saja... Harga minyak kita<BR>persalahkan, dan kita tidak mampu mengalahkan mereka..<BR>Dan kita tak berdaya..<BR>Sesungguhnya, Hidup bukanlah untuk dikalahkan,<BR>dikuasai, atau dilawan..<BR>Hidup adalah untuk diikuti alurnya... dijemput,<BR>dipeluk, bukan dilawan.<BR>"Pernah kita dengar kata-kata "Ibu Pertiwi".... hidup<BR>itu adalah seperti kita menghadapi Ibu kita sendiri,<BR>tidak perlu dilawan, hanya dituruti saja."<BR>Kalau alam mengatakan sudah banyak pengangguran, maka<BR>jangan kita mengotot mencari memikirkan mengidamkan<BR>lowongan kerja. apa tidak ada yang lebih penting<BR>dalam hidup ini selain mencari lowongan kerja?<BR>Lihatlah orang-orang sekeliling.. ..<BR>Ibu-Ibu menderita, kurang makan, kurang rasa percaya<BR>diri, kurang susu, kurang duit, kurang bahagia...<BR>banyak Ibu-Ibu antri minyak tanah, antri beras, antri<BR>Indomie... Tugas kita adalah membantu mereka, seperti<BR>kita anggap Ibu sendiri..<BR>Mereka-mereka itu juga punya anak, dan hanya Tuhan<BR>yang tahu apakah kita dilahirkan untuk menjadi apa,<BR>apakah anaknya Duta Besar atau anak-anak mereka.<BR>Kalau kita merasa sudah sedikit memiliki Keahlian,<BR>bukankah tugas kita untuk membantu mereka? Membantu<BR>Ibu Pertiwi?<BR>"Sudah saatnya kita merubah diri kita, jangan lagi<BR>memusatkan pikiran pada diri sendiri, pada uang, pada<BR>sex, pada kekuasaan... "<BR>"namun pusatkan pikiran pada orang-orang lain..."<BR>Pikirkan Ibu Pertiwi menangis setiap siang malam hanya<BR>mencari makanan untuk bayinya yang menangis. Anda<BR>jangan lagi mengeluh kurang ini kurang itu, toh anda<BR>belum pernah makan nasi yang sudah kering, yang sudah<BR>basi, yang sudah kecoklatan.. .<BR>Satu orang di Republik kita ini terasa kecil, namun<BR>ingatlah, bahwa satu per satu kita akan menjadi kuat,<BR>kita akan menjadi bibit pembawa perubahan dalam Negara<BR>kita.<BR>Jangan lagi menyalahkan Korupsi, atau KPK, atau<BR>Birokrasi, tapi pikirkanlah Ibu Pertiwi kita sendiri,<BR>mereka merasa sedih, dan kita mampu berbuat banyak,<BR>karena sesungguhnya masalah hidup rata-rata orang<BR>Indonesia tidak lebih dari Rp 3 juta saja per orang.<BR>• Gara-gara Rp 3 juta debt collector mengobrak-abrik<BR>rumah tangga, <BR>• Gara-gara uang Rp 3 juta istri minta cerai, karena<BR>tidak ada uang untuk beli susu, beli deterjen...<BR>"Tidak masalah besar atau kecil, sesungguhnya bantuan<BR>itu menjadi penting pada saat dibutuhkan."<BR>"Jangan lagi merasa terbebani oleh hidup hanya karena<BR>anda menuruti nafsu diri sendiri, tapi bebaskan diri<BR>anda dari beban hidup, yaitu dengan hidup merdeka demi<BR>orang-orang lain, dengan empati untuk memikirkan<BR>orang-orang lain, membantu masalah masyarakat."<BR>Berikut ini pertanyaan dari sahabat saya mengenai<BR>pengenalan Jiwa.<BR>Ada 2 macam pandangan tentang jiwa.<BR>1. Jiwa yang tidak sempurna<BR>Jiwa yang ndak sempurna cenderung ndak utuh, jadi dia<BR>membutuhkan sesuatu untuk membuatnya utuh. Dan saat<BR>menjadi utuh, efeknya adalah kebahagiaan. Apa<BR>kebutuhan itu? ya itu emang jadi pertanyaan besarnya.<BR>:-)<BR>2. Jiwa yang sempurna<BR>Jiwa yang sempurna, udah utuh sejak awal, dia ndak<BR>butuh sesuatu, tidak butuh apapun. Tapi ada sesuatu<BR>yang membuat jiwa itu tidak bebas, atau ada sesuatu<BR>yang mengikat /menutupi jiwa itu. Kalau sesuatu yang<BR>menutupi/mengikat jiwa itu bisa lenyap, maka jiwa pun <BR>akan bebas. Dan efek dari kebebasan itu adalah<BR>kebahagiaan. Pertanyaan besar dari pandangan ini<BR>adalah, apa yang menutupi/mengikat jiwa?<BR>Metosz<BR>Jawab: Keduanya itu benar, bahwa Jiwa yang tidak<BR>sempurna membutuhkan sesuatu. Kebutuhan jiwa itu bila<BR>dipenuhi akan membawa kebahagiaan. Jawaban kedua anda<BR>juga benar, Jiwa yang sempurna tertutupi oleh<BR>selubung. Selubung itu adalah Ego.<BR>Dengan demikian bila kita memenuhi kebutuhan Jiwa,<BR>salah satunya adalah meninggalkan Ego, maka akan<BR>diperoleh Jiwa yang sempurna, Jiwa yang bahagia.<BR><BR>4. Benefit meniti jalan memenuhi kebutuhan jiwa<BR><BR>1. Hidup ini bukan untuk kita<BR>Sering saya mendapat email dari teman2 yang beberapa<BR>memberi apresiasi, kok bisa saya membantu teman2 dalam<BR>memberi inspirasi ... misalnya: <BR>"Salam kenal Pak Goen, nama saya Handy saat ini<BR>bekerja pada sebuah perusahaan distributor di jakarta <BR>terus terang saya salut dengan banyak artikel tulisan<BR>yang bapak kirimkan di forum management tidak pernah<BR>neko-neko dan selalu membuat orang 'melek' dan mau<BR>melihat keadaan dengan gaya bahasa yang sederhana dan<BR>lugas sehingga bisa 'nembak' langsung ke orang yang<BR>membaca tulisan sepertinya pak Goen, masih punya<BR>banyak pengalaman dan informasi yang perlu dibagi-bagi<BR>dengan kita sekali lagi salut pak Goen, and keep the<BR>good work .."<BR>Beberapa teman heran, kok bisa-bisanya saya memiliki<BR>keinginan kuat untuk membantu orang lain? Sedangkan<BR>mengurusi diri sendiri saja sudah rasanya berat...<BR>Sebenarnya saya sendiri dulunya gak begitu... saya 12<BR>tahun bekerja di FMCG di Bisnis Development saya tidak<BR>bahagia... terlalu dibebani ambisi. prinsip saya dulu,<BR>kalau saya tidak mampu membeli sesuatu, yang salah<BR>adalah gaji saya, karena saya merasa memiliki bakat<BR>yang besar...<BR>Akhirnya setelah saya mendapatkan uang yang banyak<BR>sekali saya jadi bingung, setiap hari main ke Plaza<BR>Senayan, shopping. kadang saya shopping dengan 5<BR>teman saya, masing-masing dibelikan jam tangan atau<BR>hand bag, yang belum pernah mereka beli seumur<BR>hidupnya... ternyata semua itu gak ada gunanya. Tidak<BR>membuat saya bahagia,<BR>Saya baru sadar bahwa kekayaan membuat kita beku...<BR>sendirian, karena yang lain masih sibuk bekerja,<BR>sedangkan saya shoppong, shopping, shopping... sampai<BR>saya rasanya ingin mati saja. pikiran saya... "saya<BR>sudah berjuang dalam hidup, sampai memiliki kekayaan<BR>yang besar, jadi hidup tidak ada beban lagi, tidak ada<BR>tantangan... selanjutnya. .. mati"<BR>Dalam proses pikiran untuk mati itu, saya sering tidak<BR>bisa bangun, pinggang sakit, kaki sakit asam urat,<BR>terlalu banyak indulgence, kenikmatan makanan, kurang<BR>keluar keringat, dan kurang beban pikiran... Tetapi<BR>ternyata di ujung proses saya ingin mati tersebut,<BR>saya mendengar begitu banyak teriakan... Ternyata di<BR>dunia ini banyak yang teriak minta tolong... Minta<BR>tolong Tuhan... Dan saya merasa Tuhan sangat sibuk<BR>sekali mengendar teriakan orang setiap malam, ada<BR>orang kaya, ada orang miskin semuanya teriak minta<BR>tolong... Tuhan sungguh sibuk, dan saya jadi<BR>terhenyak, gak jadi mau mati.<BR>Buat apa saya hidup enak, kalau Dunia masih banyak<BR>yang menderita? Hidup untuk disyukuri, bukan untuk<BR>menderita... Hidup untuk hidup, bukan untuk mau mati<BR>saking tidak kuatnya menahan derita. Akhirnya saya<BR>baru tahu, bahwa saya selama ini mengabaikan panggilan<BR>hidup,. Saya mengabaikan pangilan orang-orang yang<BR>teriak minta tolong. Saya baru sadar bahwa hidup bukan<BR>untuk kita, namun untuk orang lain..<BR>Dulu saya sungguh sebal kalau ide saya tidak<BR>diterapkan perusahaan. memang dari dulu saya kratif,.<BR>Sekarang.... Saya bekerja tidak perlu berusaha...<BR>Karena pekerjaan saya bukan untuk saya, namun untuk<BR>orang-orang lain di sekitar saya..<BR>Besok saya ketemu PresDir Group Besar. Dulu saya<BR>sebal, kok tidak di follow up? Sekarang saya<BR>dikejar-kejar beliau, beliau ingin mendapatkan bantuan<BR>saya... Setelah menyadari selama ini saya memang<BR>berbuat baik untuk dia.<BR>Dulu kita mengharap proyek, dapat duit... Sekarang<BR>mereka yang telepon kita, mencari kita, karena di<BR>dunia jarang orang yang layak dipercaya..<BR>Dulu saya sering sebal, teman saya kok maju mundur mau<BR>mengenalkan ke PresDir Bimantara... Ehhh, setelah<BR>ngobrol 2 bulan, sekarang dia yang telepon saya,<BR>menyanyakan follow up setelah pertemuan dengan PresDir<BR>Bimantara... . Dan karena kita didukung Presdir<BR>bimantara maka langkah kita menjadi mulus... lus...<BR>lus... Kita yang disambut oleh semua level manajemen.<BR>Kita tidak ada gunanya memaksa orang lain untuk<BR>menuruti kita, kecuali kita berbuat untuk mereka..<BR>semua orang memiliki tujuan, dan tugas kita hanya<BR>membantu mereka mencapai tujuan mereka... <BR>Dan saya kembali ditanya kok mau mensharingkan<BR>pengalaman hidup, pemikiran untuk memotivasi orang<BR>lain?<BR>Saya melakukannya bukan untuk orang lain, namun untuk<BR>memberi makan jiwa saya... pada saat anda rutin<BR>memberi makan jiwa anda, maka dunia akan datang<BR>menghampiri anda... menelepon anda, mengirim sms<BR>kepada anda, menyambut anda, karena anda berbuat untuk<BR>mereka....<BR>Dan anda akan terus berbuat kebaikan untuk menolong<BR>orang lain dan jiwa anda akan merasa semakin damai,<BR>dan anda akan semakin banyak mendapat dukungan dari<BR>orang lain.... dan anda "merdeka untuk melakukan kerja<BR>sesuai dengan kata hati anda tanpa terbebani".<BR>Bahwa dunia bukan untuk kita, namun untuk orang-orang<BR>lain.,..<BR><BR>2. Jalan mencari rejeki<BR>Banyak orang memisahkan jalan duniawi dengan jalan<BR>surgawi. Artinya masalah hidup (masalah duniawi)<BR>adalah berbeda dengan masalah surgawi, karena masalah<BR>surgawi adalah untuk nanti kalau kita sudah mati. Pada<BR>suatu kesempatan berdiskusi saya pernah ditanya: <BR>Apakah jalan mencari rejeki itu sama dengan pelayanan?<BR>Apakah dengan berpikir mengenai kepentingan orang<BR>lain itu sama dengan berbuat baik? <BR>Jalan mencari rejeki itu ada 2 tahap:<BR>1. Semua orang di dunia butuh uang, namun ini adalah<BR>jalan buntu<BR>2. Jalan terbukanya rejeki adalah dengan cara menolong<BR>orang lain. Memberikan solusi bagi masalah orang<BR>lain. Namun jangan lupa pasal 1.<BR>Jadi antara pelayanan atau berbuat baik adalah suatu<BR>hal yang berbeda dengan jalan mencari rejeki. Pada<BR>waktu kita berbuat baik, kita hanya sepenuhnya tanpa<BR>motivasi apapun, kecuali hanya perbuatan baik itu. <BR>Namun dalam hidup, kita ini harus mencari rejeki,<BR>untuk mengisi hidup. Namun kita memiliki 2 pilihan,<BR>yaitu <BR>1. Dengan memikirkan masalah kita, atau tujuan kita,<BR>atau <BR>2. Memikirkan masalah orang-orang lain. Nah, cara<BR>kedua tersebut adalah lebih membuka pintu rejeki.<BR>Mengapa demikian? Karena akar dari rejeki adalah rasa<BR>percaya. Nah, akar dari kepercayaan itu adalah<BR>kepentingan pihak lain. Pada saat pihak lain itu<BR>memiliki kepentingan, maka mereka cenderung percaya.<BR>Dengan demikian, jalan mendapatkan rejeki melalui<BR>memikirkan kepentingan orang lain memiliki 2 benefit,<BR>yaitu:<BR>1. Dengan memikirkan orang lain maka kita akan meraih<BR>konsep kepemimpinan, artinya kita akan mampu<BR>mengendalikan orang lain.<BR>2. Dengan memikirkan orang lain, maka kita akan mampu<BR>memberi makan jiwa kita, sehingga kita akan<BR>mendapatkan kecerdasan spiritual.<BR>Dengan demikian, kita tidak perlu lagi memisahkan<BR>jalan duniawi dengan jalan surgawi. Karena tujuan<BR>Tuhan menciptakan manusia itu adalah bagi manusia<BR>untuk berbuat kebaikan. <BR>Meniti jalan dengan memenuhi kebutuhan jiwa juga<BR>bukanlah memilih untuk berpikir positif. Karena<BR>berpikir positif harus memiliki landasan pondasi<BR>paradigma berpikir. Tanpa itu, maka berpikir positif<BR>akan terasa merugikan, konyol dan belum tentu<BR>berhasil.<BR>Dengan demikian, kita perlu berpikir, mengapa ada<BR>seseorang yang memilih jalan untuk berpikir positif,<BR>dan berhasil? Mengapa kok mereka bisa?<BR>3. The Power of Least Effort.<BR>Prof. Yohanes Surya pembimbing juara Olimpiade Fisika<BR>yang telah memang pada beberapa kali kontes olimpiade<BR>memperkenalkan kata Mestakung: Semesta Mendukung. <BR>Artinya untuk mencapai suatu prestasi yang luar biasa,<BR>dibutuhkan suatu keadaan kondisi kritis, sehingga<BR>seolah-olah seluruh semesta akan mendukung, dengan<BR>demikian dicapai prestasi yang luar biasa, misalnya<BR>dalam memenangkan Olimpiade Fisika.<BR>Kalau kita perhatikan, pada setiap orang yang sukses,<BR>sebetulnya orang tersebut tidaklah memiliki sesuatu<BR>yang sangat luar biasa, atau melakukan sesuatu yang<BR>sangat luar biasa, mereka juga orang biasa, yang<BR>melakukan hal-hal yang biasa saja.<BR>Mengapa mereka bisa sangatlah berhasil? Sangatlah<BR>diberkati? Sangatlah berprestasi besar? Mengapa mereka<BR>mampu acomplish hal-hal yang besar?<BR>Coba kita lihat, apapun itu, semut, kucing, ayam,<BR>harimau, atau monyet, mereka bisa mencari makan,<BR>mereka bisa menghidupi dirinya di hutan, artinya, Alam<BR>memberikan semua kecukupan pada makhluk hidup.<BR>Coba kita lihat manusia, ada yang bekerja menjadi<BR>manajer, ada yang menjadi pengemis, mengapa lalu<BR>timbul ketimpangan? Mengapa yang kaya menjadi lebih<BR>kaya, yang miskin sulit menjadi kaya? Itu<BR>menjunjukkan adanya suatu Rintangan dalam hidup<BR>seseorang, artinya Alam tidak dapat secara utuh<BR>menyediakan bagi semua orang.<BR>Sedangkan kita lihat setiap hari.. Bunga mawar tumbuh<BR>dan mekar harum mewangi, tanpa harus berusaha. Pohon<BR>mangga tumbuh besar berbuah mangga manis, harum tanpa<BR>berusaha. Rumput hijau dihamparan padang rumput nan<BR>luas tumbuh tinggi tanpa berusaha. Artinya, Alam<BR>memang membuat segala sesuatu menjadi tumbuh besar<BR>tanpa harus berusaha, artinya secara alami memang<BR>harusnya begitu.<BR>Itulah The Power of Least Effort atau Mestakung<BR>(Semesta Mendukung).<BR>Kwik Kian Gie menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan<BR>Nasional (jaman Presiden Megawati) memang harusnya<BR>begitu, tidak perlu harus melakukan apa-apa, dari dulu<BR>yah begitu, sejak 20 tahun yang lalu<BR>Atau kalau mau lebih jelasnya, diri saya ini, dari 20<BR>tahun yang lalu yah begini-begini saja, tidak tambah<BR>cerdas, tidak tambah IQ, tidak tambah hebat, dari dulu<BR>begini-begini saja, waktu saya bekerja gaji pertama Rp<BR>600 ribu, atau gaji terakhir bekerja Rp 15 juta, atau<BR>saat ini, diri saya yah sama seperti yang dulu, hanya<BR>lingkungannya yang berbeda,<BR>Sama dengan teman saya, yang dulunya Accounting<BR>Manager Indosiar selama 10 tahun, gaji terakhirnya Rp<BR>10 juta. Mangapa sekarang bisa Rp 300 juta?<BR>Apa yang membedakan?<BR>Dari dulu dia itu yah begitu-begitu saja, hanya<BR>tempatnya lebih progresif, lebih memacu potensinya,<BR>sehingga dia bisa meluncur bebas tanpa hambatan,<BR>mencapai yang terbaik dari SELURUH POTENSINYA<BR><BR>Bagaimana hal ini bisa terjadi?<BR><BR>1. Prinsip pertama: Setiap Orang akan mengalami<BR>masa-masa dimana dia bias mengeruk kekayaan<BR>sebesar-besarnya, pada suatu kesempatan, pada saat<BR>itulah dia mengalami rejeki yang luar biasa.<BR>Coba kita lihat, Ada teman saya yang dari dulunya<BR>usahanya susah, tinggal di rumah mertua, punya usaha<BR>seret, hanya gara-gara waktu temannya kesulitan<BR>keuangan, dan dia membantunya, kebetulan usahanya<BR>adalah pengolahan kayu lapis, dan pada waktu itu<BR>Seorang Tokoh Bisnis sedang memulai usaha kayu lapis,<BR>oleh karena itu diciptakan undang-undang melarang<BR>ekspor kayu gelondongan. Maka bermilyar-milyar uang<BR>melimpah masuk ke perusahaannya, dan saat itulah maka<BR>kekayaan yang berlimpah ruah, cukup untuk hidup<BR>selamanya<BR><BR>2. Prinsip kedua: Alam memberikan segala sesuatu<BR>kepada setiap manusia yang menjadi dirinya sendiri<BR><BR>Artinya apa? Coba kita lihat, di dalam diri kita ada<BR>NURANI. Nurani yang membawa kita hidup, tentunya<BR>Nurani tersebut adalah sisi baik kehidupan kita, atau<BR>gampangnya SISI<BR>POSITIF diri kita. Kalau kita bisa memupuk Nurani<BR>kita, maka hidup terasa lebih mudah.<BR><BR>Lalu kemana kita harus mencari Nurani kita? Bayangkan<BR>begini, pernahkah anda merasa lega, tenteram, tidak<BR>takut bersalah, padahal anda melakukan sesuatu yang<BR>kelihatannya berbahaya? pada saat itulah Nurani anda<BR>yang bekerja.<BR><BR>Misalnya, pada saat keluarga sedang genting, sedang<BR>retak, sedang goyah, dan Anda tiba2 berkata sesuatu<BR>yang kelihatannya sangat berbahaya, tetapi akhirnya<BR>semua keluarga mendengarkan, dan akibatnya keluarga<BR>menjadi utuh kembali. Pada saat itulah NURANI anda<BR>yang berkata.<BR><BR>Nurani memberikan energi yang luar biasa pada diri<BR>kita, bayangkan keadaan yang membuat anda tenteram,<BR>lega, dan rela, dan tidak ada timbul rasa takut<BR>bersalah, lalu mengapa anda harus melakukannya penuh<BR>hambatan? Tentunya anda hanya melakukannya! Just Do<BR>It!<BR><BR>Akibatnya tentu luar biasa. Nurani adalah diri kita<BR>yang bebas kepentingan. Nurani adalah diri kita yang<BR>sebenarnya Bukan diri kita sebagai Marketing Manager,<BR>bukan diri kita sebagai pemilik BMW, bukan diri kita<BR>sebagai orang yang memiliki gaji Rp 15 juta. Tetapi<BR>hanyalah diri kita yang sesungguhnya<BR><BR>3. Prinsip ketiga: Berilah, maka anda mendapatkannya. <BR><BR>Banyak orang yang masih bingung, menganggap hidup ini<BR>tidak Fair. mengapa hak-haknya diinjak-injak? Mengapa<BR>orang-orang menekan dia? Mengapa orang-orang tidak<BR>mengerti dia? Sebetulnya hidup ini gampang, <BR>- Bila anda ingin bahagia, berikan kebahagiaan kepada<BR>orang lain maka anda bahagia.<BR><BR>- Bila anda ingin kekayaan, berikan kekayaan kepada<BR>orang lain, maka anda akan memperoleh kekayaan,<BR>- Bila anda ingin keberhasilan, maka berilah<BR>keberhasilan kepada orang lain, maka anda akan<BR>mencapai keberhasilan anda<BR>- Bila anda ingin mendapatkan segala sesuatu yang anda<BR>inginkan, maka berilah orang lain segala sesuatu yang<BR>mereka inginkan!<BR>Lalu bagaimana kalau kita tidak punya apa-apa?<BR>Pemberian yang terbaik adalah pemberian Non Material.<BR>Malah pemberian secara diam-diam dalam hati sangat<BR>besar dampaknya. Misalnya begini, anda bertemu<BR>seseorang, dan anda tidak punya apa-apa, anda bisa<BR>memberikan pujian, semangat, sapaan, doa, atau<BR>perhatian, atau sekuntum<BR>bunga, atau sebuah kartu ucapan berisi harapan anda<BR>terhadap dia,<BR><BR>Mengapa kok bisa kita mendapatkan yang kita inginkan<BR>dengan cara Memberi?<BR><BR>Karena Alam itu sungguh baik, kalau anda menanam budi<BR>baik, maka anda akan menuainya, alam itu sungguh<BR>sangat membalas budi baik anda,<BR><BR>Setelah Anda menemukan siapa diri Anda sebenarnya, dan<BR>Anda mengerti bahwa Anda bisa mendapatkan apapun yang<BR>Anda inginkan dengan cara memberi kepada orang lain,<BR><BR>4. Prinsip keempat: Kemarin adalah masa lalu,<BR>berbentuk memory, Besok adalah berupa kemungkinan,<BR>yang belum terjadi, Sekarang adalah gift/hadiah untuk<BR>Anda.<BR><BR>Banyak teman2 yang suka ngomong aku dulu umur 27 tahun<BR>sudah menjadi Senior Manager di perusahaan besar, aku<BR>dulu 10 tahun yang lalu sudah begini-begitu, nah<BR>itulah tandanya sudah terperangkap oleh masa lalu<BR><BR>Termasuk siapapun juga, seorang presiden sekalipun,<BR>dulu 35 tahun yang lalu sudah bisa menumpas<BR>pemberontakan besar, dll. Itu dulu.<BR><BR>Oleh karena itu masa lalu dinamakan 'past' dan masa<BR>yang akan datang dinamakan 'future' dan masa sekarang<BR>adalah 'present' atau hadiah.<BR><BR>Kita harus memahami keadaan sekarang. inilah awal<BR>titik perubahan, suatu evolusi, yang akan terus<BR>bergerak, masalahnya bergerak kemana?<BR><BR>5. Prinsip kelima: Kembangkan Intention yang<BR>menentukan proses arah pergerakan, bukannya Desire,<BR>atau tujuuan akhir dari pergerakan Anda dari sekarang<BR>ke masa depan<BR><BR>Dari keadaan sekarang apa yang terjadi sekarang,<BR>bagaimana situasi yang ada sekarang, kita memikirkan<BR>Arah pergerakan diri kita. Misalnya, kita menentukan<BR>saya mau bisnis sendiri, untuk meningkatkan<BR>kesejahteraan saya dan teman-teman saudara saya.<BR>Itulah Arah yang anda tentukan,<BR><BR>Jangan mengerjakan Bisnis supaya Anda bisa membeli BMW<BR>atau Suzuki Katana. Itu sudah melanggar The Power of<BR>Least Effort. BMW atau Suzuki Katana adalah Tujuan<BR>akhir, yang belum tentu anda dapatkan.<BR><BR>Kita suka mengatakan, "wah kalau aku punya mobil BMW<BR>aku akan bahagia" percayalah, Anda tidak akan bahagia.<BR>Kalau sekarang saja, Anda tidak bisa mensyukuri apa<BR>yang anda miliki, bagaimana nanti anda bisa mensyukuri<BR>apa yang anda miliki?<BR><BR>Oleh karena itu, janganlah berporos pada Tujuan Akhir,<BR>tetapi berporoslah pada Proses mencapai tujuan itu.<BR>Kekayaan adalah apa yang anda dapatkan selama dalam<BR>perjalanan Anda mencari Kesejahteraan hidup.<BR><BR>6. Prinsip Keenam: Jangan terikat oleh simbol-simbol<BR>kekayaan<BR><BR>Sering kita terobsesi oleh uang, kekuasaan, bahkan<BR>sex. Itulah perangkap perbudakan manusia. Orang bilang<BR>jaman perbudakan sudah hilang, tetapi kita lihat<BR>begitu banyak orang yang diperbudak oleh uang. Seumur<BR>hidupnya hanya memikirkan uang, mencari uang, hidup<BR>untuk uang.<BR><BR>"Kalau aku sudah memiliki uang Rp 2 Milyar, maka<BR>hidupku akan bahagia, aku akan pensiun, menikmati<BR>hidup, dan mencapai Financial Freedom" percayalah, itu<BR>tidak akan terjadi. tidak akan terjadi.<BR><BR>Kekayaan bukan diukur oleh simbol-simbol itu. Kekayaan<BR>yang sesungguhnya adalah bagaimana kita bias<BR>mendapatkan apa yang kita inginkan, kapanpun itu,<BR>dimanapun itu. Itulah kekayaan yang sesungguhnya.<BR><BR>Bayangkan ATM isi ulang, misalnya di bank Anda<BR>tersimpan uang Rp 15 juta. Anda pikir wah, banyak<BR>sekali, lalu anda gunakan untuk membeli Video Camera,<BR>uangnya habis. Misalnya saat uang anda habis, lalu<BR>terisi otomatis sebesar Rp 15 juta. Bukankah itu<BR>Miracle?<BR><BR>Kekayaan adalah suatu Miracle, keajaiban. Banyak<BR>sekali keajaiban-keajaiban yang bisa terjadi apabila<BR>Anda sudah berada dalam lingkaran The Power of Least<BR>Effort.<BR><BR>Seakan-akan segalanya terasa mudah, serba kebetulan,<BR>serba terbantu, seakan-akan semua orang memiliki<BR>pikiran yang sama dengan kita.<BR>Oleh karena itu jangan dipaksakan bahwa Anda harus<BR>punya uang Rp 100 juta, atau berapapun, karena anda<BR>telah merusak keadaan Present Moment menjadi tidak<BR>harmonis, Anda merusak diri Anda, anda tidak lagi bias<BR>menjadi diri sendiri, melainkan sudah menjadi Budak<BR>keadaan.<BR><BR>Nikmatilah keadaan Anda sekarang, dan saksikan<BR>pergerakan hidup Anda, dan nikmatilah<BR>keajaiban-keajaiban hidup yang terjadi pada Anda <BR>Dengan demikian dengan mengenal jiwa kita, hati nurani<BR>kita, diri kita yang sebenarnya akan membuat hidup<BR>kita menjadi lebih mudah, dan kita bias mencapai<BR>keadaan Mestakung (Semesta Mendukung) atau The Power<BR>of least Effort ini.<BR>4. Rasa bahagia karena mengenal Jiwa<BR>Pernahkah kita merasa saat-saat paling damai, saat<BR>paling lega, paling sentosa, paling rela, paling<BR>bangga, paling bahagia? Saat-saat itulah kita<BR>menemukan jiwa kita.<BR>Rasanya seperti berada di atas awan. Apa ciri-ciri<BR>kita menemukan jiwa kita?<BR>1. Mengutamakan Integritas. <BR>Anda tidak akan perlu lagi menggunakan bribery,<BR>sogokan atau bahkan iming-iming "what's in it for<BR>me?". Anda akan menghadapi orang lain dengan<BR>berpegang teguh pada integritas anda. Dan dunia akan<BR>membuka kesempatan walaupun Anda terlihat aneh<BR>menghindari sogokan, atau mark up dalam bisnis. Namun<BR>dunia akan memandang bahwa perusahaan Anda bagus,<BR>karena kelebihan uangnya digunakan untuk meningkatkan<BR>Kualitas dan Pelayanan.<BR>Dalam berbicara, orang lain mendengarkan, karena Anda<BR>menggunakan bahasa Jiwa. Dalam berbagai transaksi<BR>bisnis Anda memikirkan pihak lain, dan langsung<BR>berkomunikasi dari lubuk hati yang terdalam, sehingga<BR>langsung mendapatkan kepercayaan. Kepercayaan itu<BR>bukan masalah kepintaran atau argumentasi atau<BR>keahlian. Kepercayaan berkaitan dengan bahasa hati. <BR>Bila Jiwa Anda yang berbicara, maka akan menarik jiwa<BR>prospek Anda untuk mendekat.<BR>2. Anda akan mencapai Excellence, istilahnya "The Best<BR>a Man Can Get". Karena dorongan Jiwa begitu besar,<BR>dan untuk kemuliaan kemanusiaan, maka Anda akan<BR>menumpahkan segala semangat membara dalam hati secara<BR>murni, tanpa tedeng aling-aling atau mengharap<BR>balasan. Dan bagusnya, seluruh dunia akan mendukung<BR>Anda, istilahnya memiliki "The Power of Least Effort".<BR>Dorongan Jiwa akan meledak-ledak seolah-olah berontak<BR>dan langsung memberikan energi dan kecerdasan luar<BR>biasa, menjadi sosok yang tangguh menghadapi segala<BR>rintangan, dan dengan mudah mencari solusi jalan<BR>keluar tanpa sadar. <BR>3. Anda akan "detached" dari keadaan emosi. <BR>Walaupun berada di tengah pertengkaran emosional, Anda<BR>akan tetap tersenyum mengobservasi lawan bicara dan<BR>diri Anda dari "luar". Anda menjadi saksi dari<BR>kekuatan Jiwa yang mampu menghadapi keadaan seberat<BR>apapun.<BR>Anda akan senantiasa mampu berpikir, bagaimana yang<BR>terbaik karena yang menjadi pegangan adalah kebenaran<BR>absolut. Ini akan memberi dorongan kekuatan yang<BR>besar, seolah-olah problem senantiasa dapat dipecahkan<BR>dengan alami. Otomatis terbuka pilihan-pilihan yang<BR>tadinya tertutup oleh ego.<BR>4. Kepercayaan. <BR>Walaupun berbicara apa adanya, tanpa bermanis muka,<BR>atau dengan argumentasi yang kelihatan canggih, namun<BR>kesederhanaan ucapan Anda justru akan menggugah rasa<BR>percaya pihak lain.<BR>Apapun yang Anda katakan, pahit atau manis akan<BR>dihargai lawan bicara. Mereka akan mengerti bahkan<BR>terbuka pikirannya. Tidak ada yang mampu melawan<BR>kebenaran absolut, dan itu hanya dimengerti oleh Jiwa.<BR>Mereka akan menerima apa adanya tanpa merasa<BR>terancam, atau terpojokkan atau dirugikan oleh<BR>kata-kata Anda.<BR>5. Autentik. <BR>Pikiran dan ucapan akan menjadi spontan. Bahkan bisa<BR>dengan leluasa menggunakan kata-kata yang belum pernah<BR>Anda ucapkan sebelumnya. Pikiran yang muncul sifatnya<BR>original, dan tidak pernah didengar bahkan oleh diri<BR>Anda sekalipun. Pada saat Jiwa berbicara, isi<BR>kata-kata yang dilontarkan adalah spontan yang tidak<BR>pernah terpikirkan. Mereka keluar dengan tulus dari<BR>lubuk hati untuk kebaikan pihak lain.<BR>6. Inspirasi. <BR>Pikiran akan senantiasa terinspirasi oleh ide-ide yang<BR>terekplorasi, dan menjadikan kemungkinan atau pilihan<BR>Anda semakin banyak. Anda akan diberi kecerdasan<BR>kreasi, menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi<BR>ada. Secara bawah sadar, Anda akan terus menerus<BR>mengeksplorasi ide-ide yang fokus. Pikiran akan bersih<BR>dari emosi dan keraguan. Anda akan senantiasa mampu<BR>memikirkan alternatif untuk orang lain, secara<BR>obyektif.<BR>7. Anda berada dalam keadaan damai, tenteram, nyaman<BR>dan bahagia, walaupun Anda dalam keadaan sendirian,<BR>atau di tempat sepi.<BR>Pikiran Anda senantiasa diliputi oleh perhatian pada<BR>orang lain, sehingga seolah-olah melihat film<BR>kehidupan dengan bintang utama orang lain. Setiap<BR>waktu akan tersenyum melihat keadaan sahabat, baik<BR>yang bersikap baik maupun jahat. Bahkan Anda akan<BR>sering menangisi keadaan orang tertindas, dan Anda<BR>akan senantiasa mensyukuri karunia Allah, walaupun<BR>dalam keadaan sulit. <BR>8. Peranannya dalam dunia ini sama, dalam keadaan<BR>masih hidup atau sudah meninggal. <BR>Karena dia hidup dengan cara seolah-olah sudah<BR>meninggal, dan pengaruhnya masih ada seakan-akan<BR>sosoknya masih hidup, walaupun sudah meninggal. <BR>Jika bersikap seolah-olah sudah meninggal, maka Anda<BR>akan merasa terpanggil untuk menolong orang lain,<BR>mengasihi orang lain, dan bebas kepentingan. Kan udah<BR>meninggal! Anda akan merasa bahwa hidup ini hanyalah<BR>melaksanakan tugas dari Sang Pencipta untuk memelihara<BR>orang di sekitar, dan tidak akan merasa memiliki<BR>hal-hal duniawi, namun puas dengan memanfaatkan yang<BR>ada di depan Anda. Nilai-nilai yang Anda tanamkan<BR>akan terus bergulir, walaupun sudah meninggal.<BR><BR>Buku Piramida Kebutuhan Jiwa yang Bahagia ini<BR>menjelaskan bagaimana proses sebuah perjalanan Jiwa<BR>berjalan, mulai dari <BR>1. Pengenalan jiwa, dengan memenuhi Kebutuhan Didengar<BR>2. Mendapatkan Jiwa dengan mengalahkan ego yaitu<BR>Terbebas dari Ambisi<BR>3. Memberi makan Jiwa dengan Menyembuhkan atau berbuat<BR>kebaikan.<BR>4. Mengembangkan Kebijaksanaan dengan Mengerti<BR>Kebenaran<BR>5. Mengisi hidup Jiwa kita dengan Mengikuti Kata hati<BR>6. Menguatkan identitas sosok Jiwa kita dengan Mencari<BR>Jati diri<BR>7. Mencapai kesempurnaan Jiwa dengan mencapai<BR>Kemuliaan.<BR>]]></description><pubDate>Wed, 21 Mar 2007 08:34:27 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/03/21/RAIH-KESUKSESAN-SEJATI-DALAM.html</link></item><item><title>KEPERCAYAAN DIRI DAN KESUKSESAN ANDA</title><description><![CDATA[KEPERCAYAAN DIRI DAN KESUKSESAN ANDA <BR><BR>Jika Anda sempat membaca brosur penawaran dari workshop di atas, Anda <BR>bisa membaca kalimat pertamanya berbunyi demikian: <BR><BR>"Apa jadinya jika Anda memiliki target dan Anda tahu bahwa Anda tidak <BR>mungkin gagal mencapainya? " <BR><BR>Jawaban dari pertanyaan itu jelas: "Senang sekalee...!" <BR><BR>Satu hal yang bisa diterjemahkan dari rasa senang itu, adalah bahwa <BR>dengan sebuah jaminan "tidak mungkin gagal", Anda tidak perlu lagi <BR>mengkhawatirkan apapun tentang diri Anda dan tentang apa yang Anda <BR>lakukan. Anda menikmatinya, Anda enjoy menempuh perjalanan. Itulah <BR>rasa senang Anda. <BR><BR>Anda bisa senang -- alias bahagia, HANYA JIKA Anda bisa memastikan <BR>bahwa arah perjalanan Anda memang sudah sesuai dengan apa yang Anda <BR>inginkan. Anda bisa bahagia, HANYA JIKA Anda sangat mempercayai hal <BR>itu. Anda bisa bahagia, HANYA JIKA Anda sangat mempercayai diri Anda <BR>sendiri. <BR><BR>Seorang nenek tua yang sebatang kara, dan hidup hanya dari membuat <BR>sapu lidi, bisa lebih berbahagia dari pada kita. Itu bisa terjadi <BR>HANYA JIKA ia sangat mempercayai apa-apa yang ada di dalam dirinya. <BR><BR>Percaya? <BR>Diri sendiri? <BR><BR>Ya! Itulah yang sesungguhnya. Kesenangan dan kebahagiaan karena <BR>jaminan tercapainya sukses dan keinginan Anda, adalah tentang rasa <BR>percaya diri. Kepercayaan dirilah yang membuat Anda tidak mungkin <BR>gagal mencapai apapun yang Anda inginkan. Untuk menghindari kegagalan <BR>mencapai keinginan, Anda perlu menelusuri ulang SEMUA keinginan Anda. <BR>Mulai dari keinginan awal sampai keinginan puncak Anda. <BR><BR>Jika Anda menginginkan diri Anda menjadi seorang pemimpin yang <BR>berhasil, maka Anda perlu mengetahui bahwa Anda memerlukan rasa <BR>percaya diri, agar Anda bisa bertindak dan bergerak dengan efisien <BR>dan efektif menuju keinginan puncak Anda. Begitu pula, jika Anda <BR>menginginkan diri Anda menjadi seorang marketer yang berhasil. Anda <BR>juga perlu percaya diri bahwa Anda saat ini memang sedang bergerak ke <BR>arah keinginan puncak itu. Inilah yang berlaku untuk APAPUN keinginan <BR>puncak Anda. <BR><BR>Untuk apa pun yang Anda inginkan, Anda memerlukan rasa percaya diri. <BR>Hanya dengan percaya diri, Anda bisa menikmati perjalanan Anda menuju <BR>keinginan puncak Anda, dengan rasa senang dan bahagia. <BR><BR>Persoalannya begini. Rasa percaya diri pada dasarnya adalah sebuah <BR>keahlian yang bisa dipelajari. Ia bukan bawaan lahir, melainkan hasil <BR>dari proses belajar terus-menerus. Uniknya, Anda biasanya memperoleh <BR>rasa percaya diri dengan proses yang tidak disadari. Itu sebabnya, <BR>banyak orang yang mempertanyakan diri sendiri: <BR><BR>"Saya sebenarnya ingin menjadi ..., tapi kok kayaknya mustahil ya?" <BR><BR>Pertanyaan itu mencerminkan rasa percaya diri yang belum optimal, <BR>akibat kebiasaan menunggu datangnya rasa percaya diri. Orang ini <BR>lupa, bahwa percaya diri memang tidak bisa ditunggu. Percaya diri <BR>harus dibangun dengan berbagai kesadaran. Blunder seperti ini mirip <BR>dengan gambaran berikut. <BR><BR>Pernahkah Anda memperhatikan, bahwa seseorang yang berhasil -- karena <BR>sukses bisnis, karena jabatan puncak, karena kekayaan melimpah, <BR>karena ketenaran sejagat, karena kehebatan selangit, karena keahlian <BR>yang luar biasa dan sebagainya, cenderung lebih percaya diri? <BR><BR>Padahal, saat orang itu masih baru datang dari kampung sebagai orang <BR>udik yang baru memulai segalanya, jelas sekali ia bukan orang yang <BR>penuh percaya diri. Keberhasilannya mencapai berbagai keinginan telah <BR>membuatnya menjadi orang yang sangat percaya diri. Bagaimanakah ia <BR>bisa mentransformasi dirinya dari kurang percaya diri menjadi sangat <BR>percaya diri? <BR><BR>RAHASIA PERCAYA DIRI <BR><BR>Salah satu rahasia dari percaya diri adalah achievement atau <BR>pencapaian. Dalam gambaran di atas, jelas sekali bisa dilihat bahwa <BR>pencapaian akan meroketkan rasa percaya diri seseorang. <BR><BR>Namun demikian, Anda mungkin akan berkata, "Bukankah untuk mencapai <BR>sukses itu juga perlu percaya diri?" Percaya bahwa diri Anda memang <BR>bisa sukses dan bahagia? Ya! Memang demikian seharusnya. <BR><BR>Maka, muncullah paradoks yang membingungkan itu. <BR><BR>Anda punya keinginan. Dengan mencapainya, Anda akan lebih percaya <BR>diri. Dengan menjadi sukses, Anda akan merasa aman karena jaminan <BR>berbagai hal (uang, jabatan, akses, ruang gerak, keamanan, kemapanan, <BR>dan sebagainya), yang akan membuat hidup Anda menjadi lebih mudah dan <BR>bahagia. <BR><BR>Lucunya, untuk mencapai semua itu diperlukan juga rasa percaya diri, <BR>agar Anda bisa menikmati perjalanan menuju keinginan puncak, dengan <BR>dengan rasa senang dan bahagia. Sebab, Anda tentu tidak ingin menunda <BR>kebahagiaan Anda. Yang ada, adalah bahagia sekarang, makin bahagia <BR>kemudian, dan lebih bahagia lagi dan lebih bahagia lagi. <BR><BR>Di sinilah perlunya, Anda menelusuri ulang SEMUA keinginan Anda. <BR>Keinginan puncak Anda harus diurutkan lagi menjadi rantai dari <BR>berbagai keinginan. Dengan satu per satu mencapai mata rantai <BR>keinginan itu, maka Anda telah membangun berbagai achievement, yang <BR>pada akhirnya akan bermuara pada achievement puncak Anda. Dengan <BR>demikian, Anda akan percaya diri dalam menjalani proses, dan <BR>sekaligus percaya diri dalam menikmati tercapainya keinginan. <BR>Artinya, Anda akan berbahagia menikmati proses, dan Anda akan <BR>berbahagia menikmati hasil. <BR><BR>Sekarang, di manakah letaknya titik awal dari 'rantai keinginan Anda' <BR>itu? <BR><BR>Percayalah, mata rantai keinginan yang pertama adalah KEINGINAN UNTUK <BR>MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI! <BR><BR>Kesuksesan akan mendekatkan kebahagiaan. Kesuksesan menciptakan <BR>kenyamanan. Kesuksesan akan membuat Anda lebih percaya diri <BR>menghadapi dunia dan seisinya. Untuk mencapainya, Anda juga <BR>memerlukan rasa percaya diri. Maka, KEINGINAN UNTUK LEBIH PERCAYA <BR>DIRILAH yang pertama kali harus Anda puaskan! Itulah achievement <BR>pertama Anda. <BR><BR>Inginkah Anda lebih percaya diri, dengan melihat percaya diri sebagai <BR>sebuah konsep dan keahlian, karena ia memang tidak bisa ditunggu <BR>begitu saja? Jika Anda memang menginginkannya, marilah kita lihat <BR>bagaimana keinginan Anda. <BR><BR>KEINGINAN HARUS DICIPTAKAN SECARA SADAR <BR><BR>Anda dilahirkan untuk dua hal. Menjadi penakluk, atau pihak yang <BR>ditaklukkan. Yang manakah yang Anda inginkan? <BR><BR>Jika Anda tidak ingin menjadi penakluk, maka Andalah yang akan <BR>ditaklukkan. Anda akan ditaklukkan oleh emosi Anda, oleh ketakutan <BR>Anda, oleh rasa ketidaknyamanan Anda, oleh rasa was-was Anda dan oleh <BR>berbagai perilaku buruk Anda. <BR><BR>Keinginan, persis seperti otot Anda. Use it or lose it! Semakin <BR>sering Anda MELATIH KEINGINAN dengan mengikutinya menjadi tindakan <BR>nyata, maka keinginan Anda akan semakin kuat. Demikian seterusnya. <BR>Dan jika Anda berhasil memupuknya, maka Anda telah membuka jalan <BR>untuk menelusuri rantai keinginan Anda sampai ke puncaknya. Itulah <BR>kekuatan keinginan. <BR><BR>Maka, salahlah orang yang mengira bahwa keinginan adalah benda statis <BR>yang pasif dan melintas begitu saja. Sebaliknya, keinginan adalah <BR>benda hidup yang bisa DICIPTAKAN, DITUMBUHKAN dan DIBESARKAN <BR>semaksimal mungkin. Batasnya hanyalah akal dan keterbatasan manusia. <BR>Keinginan yang besar ada pada diri setiap orang. Hanya saja, ada yang <BR>memilih untuk menghentikannya, atau menganggap itu bukan <BR>keinginannya, atau merasa tidak mungkin bisa mencapainya, dan ada <BR>pula yang percaya pada keinginannya dan sangat ingin mencapai apa <BR>yang diinginkannya. <BR><BR>Keinginan seorang anak TK untuk menjadi dokter, belum merupakan <BR>keinginan puncak. Itu keinginan anak-anak. Saat anak itu bertambah <BR>usia, keinginan itu akan dibreakdown menjadi keinginan untuk terus <BR>sekolah sampai SMU, dan kemudian keinginan untuk kuliah di fakultas <BR>kedokteran. <BR><BR>Saat kuliah, keinginan itu sangat mungkin bisa 'gembos' di tengah <BR>jalan. Misalnya, karena orangtuanya bangkrut, tidak bisa membiaya <BR>lagi, dan dirinya sendiri belum bekerja. Haruskah keinginannya itu <BR>dipupuskan? Tidak! Keinginan itu sebenarnya tetap bisa dipertahankan, <BR>sehingga keinginan itu tetap bisa dicapai. Jika ia bisa <BR>mempertahankan keinginan itu, maka keinginan itu telah menjadi <BR>keinginan puncaknya. Setidaknya, sampai ia selesai kuliah. Menjadi <BR>dokter, dan mulai MENCIPTAKAN keinginan puncak yang baru, yang lebih <BR>tinggi dan lebih besar lagi. <BR><BR>Lantas, bagaimanakah Anda harus melatih keinginan Anda, dari sekedar <BR>'kepengen' alias 'mupeng', menjadi keinginan yang terus tumbuh dan <BR>berkembang menjadi keinginan puncak Anda? Bagaimanakah Anda bisa <BR>memelihara dan mengobarkan semangat, kemauan dan keinginan Anda? <BR><BR>MELATIH KEINGINAN <BR><BR>Setiap hari Anda dihadapkan pada berbagai pilihan. Waspadalah. Bukan <BR>tidak mungkin, Anda telah merasa memilih sesuai keinginan, padahal <BR>itu hanyalah selera atau bahkan nafsu yang lebih rendah. Anda harus <BR>membedakan keinginan yang positif dan mendukung tercapainya keinginan <BR>puncak Anda, dari 'sesuatu' yang hanya merupakan 'keinginan palsu' <BR>dan sebenarnya cuma nafsu. <BR><BR>Jika Anda biasa memilih bakso daripada siomay untuk jajan, mengapakah <BR>Anda tidak mencoba melatih keinginan dengan lebih sering memilih <BR>siomay? Jika Anda biasa menutupnya dengan teh botol, mengapakah tidak <BR>mencoba untuk secara sadar memilih es campur? Keluarlah dari <BR>kebiasaan yang itu-itu saja. Dobraklah zona kenyamanan Anda. <BR>Percayalah, nanti Anda justru akan memperluasnya. <BR><BR>Inilah latihan untuk keinginan Anda. Inilah yang akan MEMPERKUAT <BR>keinginan Anda. Inilah yang akan mengantarkan Anda ke puncak <BR>keinginan Anda. Inilah yang akan membuat Anda mencapai cita-cita. <BR><BR>Memilih adalah tindakan nyata dari keinginan Anda. Bukan hanya selera <BR>atau nafsu, akan tetapi benar-benar KEINGINAN yang Anda CIPTAKAN. <BR>Maka, suka atau tidak suka adalah barang yang kurang relevan. <BR><BR>Yang penting adalah, MUNCULKAN keinginan yang tetap berada di rantai <BR>keinginan Anda, yang mengarah pada keinginan puncak, lalu lakukan! <BR>JUST DO IT! <BR><BR>Ingatlah bahwa ini tidak mudah. Gandhi mengatakan "effort brings <BR>discomfort", dan Helmy Yahya mengatakan, "Sukailah apa yang Anda <BR>kerjakan, bukan kerjakan apa yang Anda sukai." <BR><BR>Dengan melatih dan membiasakan diri, Anda akan selalu senang dengan <BR>pilihan Anda. Meski itu tidak sesuai dengan selera dan nafsu Anda. <BR>Dan Anda, tidak akan bisa menjalaninya tanpa memahami dan menelusuri <BR>rantai keinginan Anda sendiri. <BR><BR>Anda pasti tahu apa yang terbaik untuk Anda. Anda tahu apa yang perlu <BR>Anda lakukan. Yang jelas, itu semua bukan tentang apa yang Anda tahu, <BR>melainkan tentang apa yang Anda lakukan. <BR><BR>MEMPERKUAT KEINGINAN <BR><BR>Chuck Gallozzi memberi 6 tips tentang bagaimana memperkuat keinginan <BR>Anda. <BR><BR>1. FOKUS ULANG <BR><BR>Ketahuilah, bahwa di dalam diri setiap orang ada motivasi yang amat <BR>besar. Apa yang diperlukan adalah melepaskan motivasi itu dari <BR>belenggunya. Untuk bisa membebaskan motivasi itu, Anda perlu <BR>mempertahankan fokus. Fokus pada apa? Fokus pada kesenangan, <BR>kebahagiaan, atau kenyamanan yang akan Anda dapatkan, jika Anda <BR>berhasil mencapai keinginan. Dan bukan sebaliknya, fokus pada upaya <BR>dan kerja keras untuk mencapainya. Anda memang tak perlu fokus ke <BR>sini, sebab upaya dan kerja keras itu sudah pasti. <BR><BR>2. UBAH PERILAKU <BR><BR>Perilaku yang tepat akan menjadikan Anda lebih efektif dalam <BR>menentukan sasaran, dalam memahami dan mengidentifikasi rantai <BR>keinginan Anda. Dasar terpenting dari semua perilaku yang tepat, <BR>adalah menerima jargon "no pain no gain" sebagai sebuah kenyataan. <BR><BR>3. LATIHAN <BR><BR>Ya. Seperti yang di atas. Latihan akan menciptakan kebiasaan. <BR>Kebiasaan akan menciptakan perilaku. Perilaku akan membuka jalan pada <BR>tindakan. Dan tindakan, adalah wahana untuk mencapai keinginan. <BR><BR>4. KONVERSI FRUSTRASI MENJADI ENERGI <BR><BR>Muhammad Ali mengatakan, "Hanya orang yang tahu persis rasanya <BR>kalahlah, yang akan bisa mencapai dasar jiwanya, dan kembali ke atas <BR>dengan kekuatan untuk menang." <BR><BR>Kuncinya, adalah berbagai hal yang positif; positif thinking, positif <BR>feeling, positif knowing. Dan segala yang positif, dimulai dengan <BR>kekayaan dalam wawasan dan cara pandang. <BR><BR>Ingatlah cara Anda memandang gelas yang hanya berisi air setengahnya, <BR>apakah itu berarti: <BR><BR>- Setengah kosong; <BR>- Setengah penuh; atau <BR>- Setengah dari kapasitas, daya tampung atau kemampuannya? <BR><BR>5. ISTIQOMAH ALIAS PERSISTENCE <BR><BR>Anda harus membangun stamina dengan benar; bersyukur jika lancar, <BR>bersabar jika tidak lancar. <BR><BR>6. MAU BEKERJA KERAS <BR><BR>Ingatkah Anda akan hukum Inersia? Apa yang diam akan cenderung tetap <BR>diam, dan apa yang bergerak akan cenderung tetap bergerak. Mulailah <BR>bergerak, maka Anda akan makin bergerak. Gerak Anda akan makin kuat. <BR>Keinginan Anda akan makin kuat. Maka Anda akan makin mendekati puncak <BR>keinginan Anda. <BR><BR>KESIMPULAN <BR><BR>Kembali ke rantai keinginan Anda. Apapun puncak dari keinginan Anda, <BR>itulah yang menjadi ujung dari rantai keinginan Anda. Di situlah <BR>sukses dan bahagia yang Anda cita-citakan. Dalam perjalanan untuk <BR>mencapainya, Anda juga perlu merasa sukses dan bahagia. Dan keduanya, <BR>berdiri di atas fondasi percaya diri. Maka, CIPTAKANLAH mata rantai <BR>pertama dari rantai keinginan Anda, yaitu KEINGINAN UNTUK LEBIH <BR>PERCAYA DIRI. Dengan keinginan ini, Anda terjamin tetap berjalan di <BR>rantai keinginan menuju puncak. Inginkah Anda? <BR><BR>Anda tahu harus bagaimana.<BR>]]></description><pubDate>Wed, 21 Mar 2007 08:32:24 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/03/21/KEPERCAYAAN-DIRI-DAN-KESUKSESAN.html</link></item><item><title>sukses dalam 16 bulan</title><description><![CDATA[apa yang bisa dilakukan dalam 16 bulan? <BR>Halo The Profecers,<BR><BR>saya ingin sharing pengalaman saya di 16 bulan terakhir. Saya mulai<BR>menulis bulan Oktober 2005 persis pada saat kenaikan BBM 2x lipat.<BR>Sebelumnya profesi saya adalah Franchisor Rekaman Talent Box [search<BR>google: Rekaman Talent Box].<BR><BR>mengapa saya kok mulai menulis di Milis? Karena saya baru tahu<BR>ternyata orang-orang ribuan pada ngumpul di Milis, kalau tahu dari<BR>dulu, maka saya tidak perlu banting otak, peras tulang membesarkan<BR>bisnis saya mulai dari nol.<BR><BR>kembali ke tahun 2002 saat saya terakhir bekerja selama 12 tahun di<BR>Marketing FMCG, pengalaman saya menurut saya sudah cukup untuk<BR>membuat bisnis sendiri, betul? Salah.<BR><BR>Saya memulai bisnis Rekaman Talent Box dengan teramat sangat depresi,<BR>sudah dipersiapkan segalanya, customer tidak ada yang datang. Hingga<BR>ternyata dengan berjalannya waktu, pada Final AFI 2004 Tia menyanyi<BR>bersama SBY. Ada 10 juta penonton acara AFI, sejak itu customer<BR>datang antri, dan saya mulai masuk di berbagai majalah & koran.<BR><BR>kembali ke saat saya pertama menulis, saya bermaksud sharing<BR>pengalaman saya mencari uang. Istilahnya Menjadi Kaya.<BR><BR>Ada yang bilang, menjadi kaya itu serakah, pelit, sodok sana sodok<BR>sini, mengorbankan yang kecil. ternyata saya jelaskan satu persatu,<BR>sambutannya positif, mereka merasa seperti menemukan oasis ilmu<BR>entrepreneur.<BR><BR>dari tulisan saya yang sekitar 100 judul email, setelah 1 bulan<BR>[berarti menulis 3 judul per hari], saya diundang penerbit.<BR><BR>banyak yang bertanya kepada saya, mengapa kok pengalamannya dibagikan<BR>kepada semua orang? mengapa rahasianya kok dibuka kepada umum? waktu<BR>itu saya tidak memiliki pikiran negatif, saya hanya berusaha untuk<BR>menjawab pertanyaan.<BR><BR>bagaimana cara memulai bisnis<BR>bagaimana menarik rejeki<BR>apakah uang itu<BR>bagaimana caranya kita meningkatkan profile rejeki kita?<BR><BR>dengan harapan, semakin banyak orang yang bisa terangkat. pembaca<BR>email-email saya dan yang menghadiri seminar saya pertama kali<BR>seperti Hendy Kebab Turki Baba Rafi. Saya diundang ke Surabaya oleh<BR>7 orang, mereka mengumpulkan uang cukup untuk ticket, makan, taxi &<BR>hotel. Sekarang Hendy Kebab Turki Baba Rafi emmenangkan The Best<BR>Young Entrepreneur of the Year Majalah Business Week.<BR><BR>Yang lain Ronny, sekarang mengumpulkan organisasi yang anggotanya 300<BR>calon pedagang berkumpul belajar dagang bersama-sama gotong royong,<BR>sampai sekarang Ronny amsih sering sms.<BR><BR>Peserta seminar saya pertama salah satunya Dr. Subowo MBA, PhD. dan<BR>Ibu Lisa Nuryanti, dua-duanya Direktur di Combiphar dan mantan<BR>Direktur di John Robert Power. saya bingung kok dokter MBA dan S3<BR>Direktur utama datang menghadiri seminar saya?<BR><BR>sampai sekarang sudah berjalan 16 bulan, pertama kali buku saya<BR>terbit 11 bulan lalu saya keliling semua cara sudah saya coba sambil <BR>terus menulis, saya sudah menerbitkan 5 buah buku.<BR><BR>ada yang tanya, mengapa idenya kok dibagikan?<BR><BR>apa tidak habis?<BR><BR>Ternyata banyak orang tidak menyadari, bahwa menulis buku itu bukan<BR>seperti mengarang. Namun lebih seperti menyanyi atau melukis.<BR>Setelah selesai menyanyi, selalu ada perasaan ingin lebih sempurna,<BR>dan menerima input banyak orang, sehingga lain kali menyanyi dengan<BR>sepenuh jiwa.<BR><BR>ide itu bukan datang dari lampu aladin.<BR><BR>ide datang dari pertanyaan orang-orang.<BR><BR>apakah kepemimpinan itu?<BR><BR>saya mengatakan hidup ini bukan untuk kita, kita hanya menjalankan<BR>tujuan Tuhan menciptakan kita, yaitu menolong sesama.<BR><BR>apa betul?<BR><BR>harus betul, sebab pembaca buku saya membacanya keras-keras berulang-<BR>ulang,<BR><BR>apa betul?<BR><BR>pertanyaan berjalan terus,<BR><BR>ada yang bertanya, kalau kita ingin sukses dengan cara menolong orang<BR>lain, itu tidak ikhlas?<BR><BR>saya pelajari, apakah itu ikhlas,<BR><BR>bagaimana ikhlas secara Islam,<BR><BR>jawabannya tetap sama,<BR><BR>Bahwa kita harus meninggalkan ego.<BR><BR>Meninggalkan ego akan menemukan kehidupan kekal, surga itu sekarang,<BR>kalau kita menunggu nanti saat menunggu ajal, bisa kemungkinan besar<BR>kita tidak akan sampai kesana.<BR><BR>terus saya berpikir, siapa yang membaca buku-buku saya itu?<BR><BR>adakah gunanya?<BR><BR>ternyata, semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mendapat<BR>sambutan positif. Minggu lalu teman saya [menulis bareng, teman<BR>sekolah saya 22 tahun lalu] diundang lunch Pak Agung Adhiprasetyo CEO<BR>Kompas.<BR><BR>Kalau tidak menulis buku, mungkin kita harus menunggu 15 tahun lagi,<BR>saat Pak Agung pensiun baru bisa kenalan,<BR><BR>Saya bisa masuk Radio, masuk majalah, menjadi cover story Majalah Swa<BR><BR>http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?<BR>cid=1&id=5630&pageNum=2<BR><BR>Tanggal 23 Maret nanti diundang Dialog dengan 100 Staf Pengajar dan<BR>Manajemen Univ. Sahid Jakarta, tanggal 23 April memberikan kuliah<BR>umum kepada 300 mahasiswa FE Univ. Gunadharma di Depok.<BR><BR>Saya terus menulis, terakhir saya menulis Rakyat Indonesia hidup dari<BR>selisih harga, masuk ke Superkoran http://www.apakabar.ws/ secara<BR>rutin, dan mendapat respon dari teman sahabat,<BR><BR>muhammad asrofi <asrofi@...><BR><BR>Saya membaca banyak postingan Anda di beberapa milis yang isinya<BR>bagus-bagus. Lebih khusus lagi untuk postingan berjudul "Rakyat<BR>Indonesia hidup dari selisih harga", saya benar-benar acung jempol.<BR>judulnya menggelitik dan isinya menyengat. luar biasa.<BR><BR>selamat melanjutkan karya Anda. salam, asrofi<BR><BR>Dan saya terus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul,<BR><BR>mengapa?<BR><BR>Karena saya tiap hari menangis melihat penderitaan rakyat. Kalau saya<BR>bisa sedikit mengurangi kebuntuan, dengan saya menulis, itu sungguh<BR>karunia Tuhan, sungguh karunia Tuhan.<BR><BR>salam,<BR>Goenardjoadi Goenawan<BR>]]></description><pubDate>Wed, 21 Mar 2007 08:27:33 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/03/21/sukses-dalam-16-1.html</link></item><item><title>Humor Suroboyoan</title><description><![CDATA[Humor Suroboyoan- Jilid 4<BR> <BR>Kata Pengantar<BR> <BR>Derek-derek sedoyo,<BR> <BR>Jilid papat iki isine mek ceritone Wonokairun thok.  Lek sampeyan gak seneng utowo gak weruh watake Wonokairun, luwih apik ojok moco cerito iki timbangane ngersulo misuhi tonggone.<BR> <BR>Jenenge wong urip, mesti rekoso tandang gawe, contone yo Wonokairun iku.  Sembarang penggawean dilakoni, kadang mbecak, kadang ngojek, sampek dibelani golek tetelane gubis.  Masio uripe rekoso, Wonokairun iku wonge tetep semuangat gak gelem kalah ambek sing enom.  Opo maneh sampek ono sing nggarai, bakalan bunyek dipongor.<BR>Mugo-mugo ae sik pancet mujarab kanggo nambani bojo, pacar utowo morotuo sampeyan sing lagi menderita nyaprut mbetutut. <BR>Suwun<BR>Budhi Santoso<BR>Paiton, Agustus 2006<BR>Peringatan Hak Cipta<BR>Ngguyu iku termasuk salah siji hak asasine menungso, dhadhi gak perlu mbayar. Aku gak masalah lek bukuku iku nyebar nang endhi ae, tapi lek onok wong sing sampek wani ngomersilno, tak dungakno ngguyu pitung turunan gak isok mingkem.<BR> <BR>Daftar Isi<BR> <BR>Gajah Matek. 5<BR>Bangga. 6<BR>Bengkerengan. 7<BR>Jaketan. 8<BR>Mbecak. 9<BR>Stasiun. 10<BR>Jabut Gigi 11<BR>Dhuwik sewu. 12<BR>Bon Bin. 13<BR>Mbecak Maneh. 14<BR>Cegatan. 15<BR>Permen karet 16<BR>Bis Kota. 17<BR>Ngenyang Pithik. 18<BR>  <BR> <BR><BR><BR><BR>Gajah Matek<BR> <BR>Isuk-isuk wong sak bonbin gupuh kuabeh krungu berita ono gajah matek mergo wis tuwek. Masio kulite kisut keriput tapi bobote ono lek 2 ton. Brudin sing biasane dodolan es gronjong nang bon-bin sakno ndelok Mbah Wonokairun nuangis mbrebes mili.<BR>"Wis tah Mbah, gak usah athik mbrebes mili. Aku iso ngrasakno yok opo susahe berpisah ambek gajah sing sampeyan openi pirang puluh taun. Opomaneh umure sampeyan ambek gajah iku yo sak pantaran, mestine akeh kenangan manise yo.  Tapi wis gak usah sedih mbah, lak sik ono gajah liyane sing lucu-lucu." jarene Brudin.<BR>"He cak, aku iki dhudhu pawange gajah !!!! Ngawur ae !!!!" jarene Wonokairun.<BR>"Lho lek sampeyan dhudhu pawange gajah, laopo sampeyan athik nuangis mbrebes mili barang.  Sejatine sampeyan iki apane gajah?? koncone opo dulure ??" jarene Brudin.<BR>"Aku iki tukang gali kuburan, isuk-isuk durung sarapan wis dikongkon ngeduk kuburan, tibake kuburane gajah..." Wonokairun nangis maneh.<BR>"Wis mbah ojo nangis maneh, iki lho tak gawekno es gronjong, gratis wis." Jare Brudin.<BR>Mari ngombe rong gelas, Wonokairun wis gak nangis maneh.<BR> "Kon kok apikan nggawekno es gronjong gratis, koyok wong sugih ae." Jare Wonokairun.<BR> "Lho ojo salah mbah, aku iki pancene keturunane wong sugih, dhuwike mbahku iku cukup gawe tujuh turunan." Jare Brudin bangga.<BR> "Gombal !!!, lek pancene kon iku turunane wong sugih, laopo saiki dhodolan es gronjong ??" jare Wonokairun.<BR> "Soale aku keturunan sing ke wolu . . ."<BR><BR>Bangga<BR>Wonokairun lagi mbambung ngemis nang ngarepe TP, dhadhak Bunali teko katene ngemis pisan.<BR>"Sampeyan wis suwi tah ngemis nang kene ? Yok opo wis oleh akeh tah ?" takok Bunali.<BR>"Yo lumayan se, sak dino paling sithik aku oleh seket ewu." jare Wonokairun.<BR>"Wah yo lumayan yo, tenguk-tenguk oleh seket ewu.  Eh Mbah, sampeyan gak nduwe anak tah, kok sampek kudhu ngemis koyok ngene ?" takok Bunali.<BR>"Anakku wolu wis gedhe-gedhe, telu nang ITS, loro nang Unair, siji nang Unbra, loro maneh nang IKIP. " jarene Wonokairun bangga.<BR>"Wah gak nyongko rek, hebat sampeyan mbah.  Durung ono sing lulus tah anak sampeyan?" takok Bunali.<BR>"Anakku gak ono kuliah cak !" jare Wonokairun.<BR>"Ooh dadi dosen tah??" takok Bunali.<BR>"Salah peno cak." jare Wonokairun.<BR>"Lha laopo lo ??" takok Bunali.<BR>"Yo koyok bapake iki, ngemis kabeh..."<BR><BR>Bengkerengan<BR> Brudin pethuk Wonokairun kate budhal nang sawah.<BR>"Laopo isuk-isuk kok wis mlaku ambek bedhes lungset kumus-kumus ?" jarene Brudin.<BR>"Ooo pancene picek, sing tak tuntun iki jenenge wedhus dhudhuk bedhes !!" jare Wonokairun.<BR>"Lho aku gak takok peno!!.  Aku pancene takok nang wedhuse." jare Brudin. Ooo awas kon yo !! pikire Wonoklairun nggondhok.<BR>  <BR>Mulih seko sawah, arek loro pethukan maneh. Moro-moro Wonokairun ngentut mak dut !!. Brudin muring-muring.<BR>"Damput, pancene dobol.  Ngentut sembarangan" Brudin meh nggeblak gak kuat ambune.<BR>"Saiki kon tak takoni, ngentut iku apik opo elek ?" jare Wonokairun.<BR>"Yo mestine elek mbah.." jarene Brudin.<BR>"Lha mulakno tak buak" jarene Wonokairun.<BR>"Lek misale tak jawab ngentut iku apik, terus opoko ?" takok Brudin.<BR>"Lha mulakno kon tak ke'i...."<BR> <BR>Jaketan<BR> Isuk-isuk Wonokairun pethukan ambek Brudin budhal kerjo.<BR> "Wuik gaya rek . .saiki areke jaketan rek." jare Wonokairun.<BR>"Iyo mbah, saiki aku kerjo nang nggon adem" jare Brudin. <BR>"Ketrimo nang kantor endhi Din?" jare Wonokairun.<BR>"Aku gak kerjo nang kantor mbah." jare Brudin.<BR>"Nang endhi lho??" takok Wonokairun.<BR>"Nang pabrik es batu . ."<BR> <BR>Mbecak<BR>Bosen ngemis, saiki Wonokairun mbecak.  Be'e hasile luwih akeh pikire. Pas mancal ambek tingak-tinguk golek penumpang, moro-moro ono turis bule nyeluk. <BR>"Come ...please . . ." jarene bule ambek ngawe becake Wonokairun.<BR>"Kamplis... ??? . . .wah salah, sing bener iku Klampis mister..cedhake jalan Mletho kono lho . . ." jare Wonokairun.<BR>"Pardon me..??" bulene bingung.<BR>"Parmi ..??  oalah Parmi tah ?  iyo weruh aku omahe." jare Wonokairun ambek ngguya ngguyu.<BR>"What ??!!" bulene sik bingung.<BR>"Kuat ??? . ..yo kuat rek, masio wis tuwek tapi sik tahes iki . ." jare Wonokairun ambek mantuk mantuk. <BR>"Lets go !! . ." jarene bule mantuk-mantuk pisan.<BR>"Pekgo !! . .wok kemalan rek !! wong ngomong limang ewu ae athik boso mandarin barang.  Oke Mister !!" jare Wonokairun.<BR>Mari bulene munggah, Wonokairun langsung nyengklak becake. Bareng wis mlebu Klampis gang buntu, Wonokairun langsung bengok-bengok.  "Diiinnn !!! Bruuuudiinnnn !!!! Ono wong bule nggoleki bojomuuuuu .!!!!"<BR> <BR>Stasiun<BR>Wonokairun teko nang stasiun Gubeng, pethukan ambek Brudin dhodholan es.<BR>"Din, sepur nang jakarta wis liwat tah?" takok Wonokairun.<BR>"Wah telat sampeyan mbah, wis budhal jam pitu mau . ." jare Brudin.<BR>"Lek sepur nang banyuwangi wis liwat tah durung ..? takok Wonokairun.<BR>"Lho sik tas ae Mbah, kiro-kiro sepulung menit kepungkur . ." jare Brudin.<BR>"Lek sepur sing nang semarang wis liwat tah durung . .?" takok Wonokairun. <BR>"Oooh lek iku mengko awan jam rolas budhale.  Sik tah Mbah, ben sepur sampeyan takokno !! Sampeyan iku sakjane arep nang endhi ? " Brudin bingung.<BR>"Arep nyabrang .  ."<BR><BR>Jabut Gigi<BR>Wonokairun loro untu lungo nang dokter gigi konco lawase jenenge Bunali.<BR>"Waduh mbah, untu sampeyan kudhu dicabut . ." jare Bunali.<BR>"Yo wis jabuten ae ben ndang waras " jare Wonokairun.<BR>Mari dijabut Bunali takok "Wis gak loro maneh mbah ?"<BR>"Iyo wis enak saiki, piro ongkose dok ?" Wonokairun takok.<BR>"Wis gak usah mbayar mbah, gratis ae " jare Bunali.<BR> "Waduh suwun suwun, . . tak dungakno sampeyan mlebu suargo" jare Wonokairun.<BR> Pas nang omah Wonokairun ngoco, langsung nggeblak semaput.<BR>Tibake sing dijabut iku untu emase. <BR> <BR>Dhuwik sewu<BR>Wonokairun mbecak mulai isuk sampek awan gak oleh penumpang. Dhuwike kari sewu tapi kerongkongane ketelak pol.<BR>Moro-moro Brudin lewat nyurung rombong es gronjong. "Din, dhuwikku mek sewu, iso gawe tuku es tah ?" jare Wonokairun.<BR>"Iso mbah, tapi es batu thok gathik setrup." jare Brudin. Medhite rek pikire Wonokairun, uawas kon yo..<BR>Sisuke Wonokairun pethukan ambek Brudin mulih pasar mari kulakan. "Mbah, dhuwikku kari sewu, iso gawe numpak becak tah ?" takok Brudin."Iso Din, tapi tak pancal thok gathik ngerem..."<BR> <BR>Bon Bin<BR>Wonokairun sir-siran nang Bon Bin, dhadhak pethukan maneh ambek Brudin dhodholan es gronjong. <BR>"Coca cola loro Cak !" jare Wonokairun.<BR>"Aku gak ndhuwe Coca Cola Mbah, modalku cilik, durung cukup gae kulak coca cola.  Es gronjong ae yo, tak jamin sueger Mbah" jare Brudin. "Aku ngomong ambek wong sing ndhuwe rombong nang mburimu." jare Wonokairun. Oooh uawas kon yo, Brudin nggondhok.<BR> Mari muter-muter dhodholan es gronjong, Brudin pethukan maneh ambek Wonokairun lagi guyon ambek gendhakane.<BR> "Oo !! Pancene gak nggenah !!! Wingi anake dhewe disikat, saiki bojone koncone arep disikat pisan.  Wis tuwek petakilan " jare Brudin.<BR>"He !! Kon lek ngomong ojok sembarangan lho yo !!! Tak suantap lambemu !!! Sing wingi nyikat anake dhewe iku lho sopo !!!.  Iki yo dhudhuk bojone koncoku, arek iki wis rondo, sak umur-umur gak tau ndelok bon bin, mulakno tak jak nglencer !!" Wonokairun mencak-mencak gak trimo.Begitu krungu wong loro iku gegeren, arek wedhok gendhakane Wonokairun langsung ngilang minggat.<BR>  "Aku ngomong ambek bedhes tuwek nang mburimu . ." jare Brudin.<BR><BR> <BR>Mbecak Maneh<BR>Isuk-isuk Wonokairun wis mruput mancal becak golek penumpang. Mari ngono oleh penumpang cewek uayu ambune wangi rambute teles mari kramas, Wonokairun sueneng poll.<BR>"Arep nang endhi Ning ?" jare Wonokairun.<BR>"Nang slompretan mbah . ." jare ceweke.<BR>"Waduh gak weruh aku nggone ning . ." jare Wonokairun.<BR>"Wis mbah pokoke sampeyan mancal ae nurut komandoku . ." jare ceweke.<BR>"Oke boss . . " jare Wonokairun ambek mbukak terpal becake, karepe ben iso ngrasakno mambu wangi rambute cewek iku.<BR> "Kiri mbah . ." Wonokairun nurut menggok kiwo.<BR>"Kanan mbah . ."  Wonokairun nurut menggok kanan. <BR>"Kanan maneh . ." Wonokairun nurut.<BR>"Kiri   ." "Kanan . ." "Kenceng ae mbah .." "Kanan maneh . .terus kiri "<BR>Wonokairun nurut ae sing penting iso ndelok gegere ceweke ayu iku.<BR> <BR>"Wis stop kene ae Mbah !!" moro-moro ceweke mbengok ambek ngekeki dhuwik limang ewu.<BR>Wonokairun nuangis mbrebes mili.<BR>"Lho opoko mbah, kurang tah, iki lho tak tambahi maneh ." jare ceweke ambek ngekeki dhuwik sepuluh ewu.<BR>Wonokairun sik nuangis ae.<BR>"Sepurane yo mbah, sik kurang tah, iki lho tak tambahi maneh . ."  jare ceweke ambek ngekeki dhuwik seket ewu.<BR>Wonokairun sik nuangis ae.<BR>"Waduh mbah sampeyan njaluk piro ? Age ngomongo." ceweke bingung.<BR>"Ning aku nuangis gak perkoro dhuwike kurang . ." jare Wonokairun.<BR>"Lho opoko mbah ?" jare ceweke.<BR>"Aku lali dalane mulih . . ." <BR> <BR>Cegatan<BR>Wonokairun kepingin ngojek, soale lek mbecak royokan penumpang kalah terus. Isuk-isuk Wonokairun wis sliwar-sliwer belajar numpak bronpit. Lagek mlaku sedhiluk, dhadhak wis dicegat pulisi. Tibake pulisine ikut Bunali, tonggone dhewe.<BR> "Mbah, tulung ndelok SIM ambek STNKne ! " jare Bunali.<BR>"Ono nang dompetku" jare Wonokairun.<BR>"Lek aku mbadhek, sampeyan mesti lali nggak nggowo SIM" jare Bunali.<BR>Mari buka dompet ambek rogoh-rogoh kesak, tibake temenan Wonokairun lalu nggak nggowo SIM.<BR>"Waduh iyo, aku lali nggak nggowo SIM . ." jare Wonokairun.<BR>"Lek ngono sampeyan kudhu tak tilang Mbah" jare Bunali.<BR>"Kon ojo athik ngelamak ambek aku lho yo !!!.  Sik tas lulus Watukosek ae wis kemenyek atene nilang !! Gak isok !!!" Wonokairun nguamuk.<BR>  Timbangane gegeran, akhire Bunali ngalah, Wonokairun diculno gak sidho ditilang.<BR> Sisuke Wonokairun belajar bronpit maneh.Lagek mlaku sedhiluk, dhadhak wis dicegat Bunali maneh.<BR> "Mbah, tulung ndelok SIM ambek STNKne ! " jare Bunali.<BR>"Ono nang dompetku" jare Wonokairun.<BR>"Lek aku mbadhek, sampeyan mesti lali nggowo STNK" jare Bunali.<BR>Mari buka dompet ambek rogoh-rogoh kesak, tibake temenan Wonokairun lalu nggak nggowo STNK.<BR>"Waduh iyo, aku lali nggak nggowo STNK . ." jare Wonokairun.<BR>"Lek ngono sampeyan kudhu tak tilang Mbah, iki wis ping pindho sampeyan pelanggaran" jare Bunali.<BR>"Gak isok !!!! Tak pongor mencelat mbalik nang watukosek kon yo !!! " Wonokairun nguamuk maneh.<BR> <BR>Timbangane gegeran, akhire Bunali ngalah, Wonokairun diculno maneh gak sidho ditilang. Sisuke Wonokairun belajar bronpit maneh, saiki wis wani rodho adhoh. Bareng mlaku wis oleh 5 km, dhadhak pethuk Bunali maneh.<BR> "Ayo minggir !!!, Aku saiki wis gak lali, STNK, SIM lengkap kuabeh.  Iki lho dheloken,  helm, jaket ambek sarung tanganku yo anyar kuabeh.  Hayo kate lapo kon !!! " jare Wonokairun suombong.<BR>"Yo wis mbah, aku yo gak katene nilang sampeyan, tapi aku mbadhek sampeyan sik ono sing lali maneh " jare Bunali.<BR>"Gak mungkin !! Lali opone  . .?" Wonokairun bingung,<BR>"Laopo sampeyan mancal becak ? Lha bronpite endhi ?" <BR><BR> <BR> <BR>Permen karet<BR>Wonokairun lagi mondar-mandir nang stadion tambaksari molak-malik kursi penonton. Ketepakan stadione lagi sepi gak ono pertandingan.<BR>Lagek oleh limang baris, dhadhak pethukan ambek Brudin sing lagi serabutan ngeresiki stadion.<BR>"He Mbah, laopo ben kursi kon inceng sithok-sithok" jare Brudin.<BR>"Wingi sore aku nontok bal-balan ambek mangan permen karet terus tak templekno nang ngisore kursi. Cuma masalahe aku lali wingi longgone nang endhi, mulakno aku kepekso merikso kuabeh kursi sithok-sithok, lek ono permen karete langsung tak jabut.   Dheloken iki, aku wis oleh sak kresek." jare Wonokairun.<BR> "Waduh terharu aku mbah, pancene sampeyan iku pantes diconto.  Umpomo wong kuabeh ndhuwe kesadaran tanggung jawab koyo sampeyan, wah enak tugasku." jarene Brudin.<BR> "He Din, niatku iku dhudhuk arep ngewangi awakmu. Kok nyimut !!!" jare Wonokairun.<BR> "Arep laopo lho ...?" jare Brudin bingung.<BR> "Untu emasku coplok ceket nang permen karete . . "<BR><BR> Bis Kota<BR> Brudin numpak bis kota Joyoboyo Pasarturi, penumpange uakeh dhesek-dhesekan. Sampek daerah pasar kembang Wonokairun munggah."Lho mbah, jange nang endhi ?" Brudin nyopo.<BR>"Nang pasar turi jange tuku klambi." jare Wonokairun.<BR> "Longgo kene lho mbah" Brudin ngadhek ambek nawakno kursine nang Wonokairun.<BR> "Wis gak usah !! Kon longgo ae !!." jare Wonokairun.<BR>Brudin wis kadung ngadhek malih longgo maneh.<BR> "Longgo kene lho mbah" Brudin ngadhek maneh nawakno kursine.<BR>"Wis gak usah !! Kon longgo ae !!." jare Wonokairun.<BR>Brudin wis kadung ngadhek malih longgo maneh.<BR> <BR>"Longgo kene lho mbah" Brudin ngadhek pisan maneh nawakno kursine.<BR> Wonokairun mulai nesu bolak-balik ditawari longgo.<BR>"Wis tak warah kon longgo ae !!. Tak akoni kon pancen apikan tapi masio wis tuwek awakku sik kuat ngadhek !!" jare Wonokairun.<BR> Brudin nesu pisan.<BR>"Mbah, aku nawakno longgo iku dhudhuk mergo apikan. Aku iki jange mudhun, tapi bolak-balik sampeyan kongkon longgo maneh. Saiki selak omahku kebablasen..."<BR><BR> <BR> Ngenyang Pithik<BR>Wonokairun ganti haluan maneh saiki dhodholan pithik nang pasar ngelom.  Brudin teko jange tuku pithik digawe tumpengan slametan.<BR> "Mbah aku jange tuku pithik meduro, ono tah?" jare Brudin.<BR>"Iki lho sing wulune abang. ." jare Wonokairun.<BR>Mari ngono ambek Brudin pithike diangkat sampek njengking terus dibukak bokonge.Pithike girap-girap sampek wulune brodhol, Wonokairun nggondhok ndelok pithike diobok-obok bokonge. "Wah dhudhuk iki mbah, iki tibake pithik njombang . ." jare Brudin ambek mbalekno pithike.<BR> "Cobak sing putih iki . ." jare Wonokairun ambek nawakno pithik putih. Mari ngono Brudin merikso maneh bokonge pithike. Pithike girap-girap sampek wulune brodhol, Wonokairun tambah mbedhodhok ndelok pithike diobok-obok bokonge."Wah dhudhuk iki mbah, iki tibake pithik solo  ." jare Brudin.<BR>Wonokairun nawakno maneh pithik klawu,  tapi tetep gak cocok, tiwas brodhol kuabeh."Kon iku jange tuku utowo mek kepingin dulinan bokonge pithik !!!" Wonokairun wis gak iso nahan emosi.<BR> "Iyo mbah, aku pingin tuku pithik sampeyan tapi durung ketemu sing pithik meduro . ." jare Brudin.<BR> "Iki lho pithikku sing kari dhewe ." jare Wonokairun ambek nawakno pithik ireng.<BR> <BR>Mari merikso bokonge pithik ireng Brudin puas."Lha yo iki pithik meduro  .Piro regone mbah ? jare Brudin.<BR>"Satus ewu !!!" jare Wonokairun ambek ngamuk padahal biasane regone mek rong puluh ewu.Brudin wis gak wani ngenyang blas, langsung dibayar satus ewu.<BR>"Mbah, sampeyan kok ngamukan se ?? Sakjane sampeyan asline wong endhi ?" jare Brudin. "Aku asli wong jerman !!" jare Wonokairun.<BR>"Wok ! Rupamu mbah, gak mungkin !" jare Brudin.<BR> <BR>"Lek gak percoyo dheloken dhewe . ." jare Wonokairun ngangkat bokonge.<BR> <BR><BR>]]></description><pubDate>Wed, 07 Feb 2007 13:57:12 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/02/07/Humor.html</link></item><item><title>ngemalar kerja ora gampang</title><description><![CDATA[Kerja pancen ora gampang<BR>G : Kowe nduwe omah opo ora.....?<BR>a : dereng....<BR>G : Wah kowe ora iso ketompo nang kene<BR>a : Lho kok ngaten........?<BR>G : Mengko kowe mesthi ngajukne utang nang perusahaan.<BR>a : Ah.. mboten kok, Sak janipun tiyang sepuh kulo niku sampun sugih.<BR>G : Yo malah ora ketompo<BR>a : Lho kok ngaten.....?<BR>G : Mengko kowe kerjo mung nggo hiburan, nongkrang nongkrong ae.<BR>********************<BR>G : Kowe nduwe motor opo ora....?<BR>b : Mboten.<BR>G : Ora ketompo<BR>b : Lho kok mboten ketompo ?<BR>G : Mengko kowe mesthi njaluk bantuan kredit.<BR>b : Sak janipun gadhah, ning tasih ten kampung, gampil mangke kulo beto ngriki.<BR>G : Wah malah ra ketompo....<BR>b : lho kok ngoten<BR>G : Tempat parkire wis ra cukup.<BR>********************<BR>G : Kowé wis lulus sarjana tenan.....?<BR>c : sampun pak....<BR>G : Ora ketompo, kéné iki golék sing SMA aé, luwih manutan lan bén mbayarémurah<BR>c : Sak janipun kulo tasih badhe skripsi<BR>G : Malah ora ketompo.....<BR>c : Lho kados pundi to....?<BR>G : Mengko kowé kerjo mung ngetik skripsi, lék wis lulus mesti golék kerjo neng perusahaan liyo.<BR>********************<BR>G : Kowé seneng guyon opo ora ?<BR>d : Mboten pak, kulo serius nék nyambut gawé.<BR>G: Ra ketompo.....<BR>d : waa......kok ngoten?<BR>G : Engko konco koncomu lan anak buahmu podho stress.<BR>d : Sak jané nggih sekedhik sekedhik seneng guyon.<BR>G: Malah ora ketompo.<BR>d : Lho kok......<BR>G: Engko kowé mung email emailan sing lucu.......<BR>********************<BR>G : Kowé mau mréné numpak opo ?<BR>e : Nitih mobil<BR>G : Kowé ora ketompo<BR>e : Sebabipun ?<BR>G : Saiki BBM mundhak terus, mengko kowé njaluk mundhak bayar terus<BR>e : Wo, kulo wau namung mboncèng, kok<BR>G : Tambah ora ketompo<BR>e : Lho, lha kok ... ?<BR>G : Mengko mung gawéné mboncéng mobil kantor. Ngrusuhi !<BR>¬********************<BR>G : Anakmu akèh opo sithik ?<BR>f : Kathah pak<BR>G : Kowé ora ketompo<BR>f : Sebabipun ?<BR>G : Nyambut gawemu ora jenjem, mung mikir gawe uanaaaaaak terus<BR>f : Lha wong namung anak adopsi, kok.<BR>G : Tambah ora ketompo<BR>f : Lho, lha kok ... ?<BR>G : Gawé anak baé aras2en, opo manèh nyambut gawé<BR>********************<BR>G : Kowé wis ngerti gawéyanmu durung ?<BR>h : Dèrèng<BR>G : Kowé ora ketompo<BR>h : Sebabipun ?<BR>G : Arep nyambut gawé kok ora ngerti gaweyané ?<BR>h : Oo, nèk damelan niku mpun ngertos kok<BR>G : Tambah ora ketompo<BR>h : Lho, lha kok ... ?<BR>G : Kowé rak mung arep keminter, to ?<BR>********************<BR>G : Kowe ngerti kahanan kantor kéné durung<BR>k : Dèrèng<BR>G : Kowé ora ketompo<BR>k : Sebabipun ?<BR>G : Arep nyambut gawé kok ora ngerti kantoré ?<BR>k : Wo, sekedhik2 mpun ngertos kok<BR>G : Tambah ora ketompo<BR>k : Lho, lha kok ... ?<BR>G : Kowé senengané ngudhal-udhal wewadi kantor, to ?<BR>********************<BR>G : Kowé kerep loro ?<BR>m : Mboten<BR>G : Kowé ora ketompo<BR>m : Sebabipun ?<BR>G : Mesthi kerep mbolos, wong arang2 gering<BR>m : Wah, sakjanipun nggih asring<BR>G : Tambah ora ketompo<BR>m : Lho, lha kok ... ?<BR>G : Kantor iki ora nompo karyawan pileren.<BR>********************<BR>G : Kowé biso main Internét ?<BR>n : mBoten<BR>G : Kowé ora ketompo<BR>n : Sebabipun ?<BR>G : Perusahaan ora nompo BI (Buta Internet)<BR>n : Wah, sakjanipun nggih saged<BR>G : Tambah ora ketompo<BR>n : Lho, lha kok ... ?<BR>G : Mesthi ora bakal nyambut gawé, kakèhan dolanan Internet, to? Ngenték-entekké pulsa !<BR>********************<BR>G : Kowe waras opo ora?<BR>o : Lha, kulo nggih waras to Pak.<BR>G : Ra ketompo.......<BR>o : Kenging nopo .....?<BR>G : Mengko kowe mesthi ora krasan neng kene.<BR>o : Niku rumiyin Pak, sakmeniko sampun rodo edan.<BR>G : Malah ra ketompo......<BR>o : Pripun to niki....?<BR>G : Mengko aku duwe saingan..........<BR><BR>Subject: Kesalahan Lagu Anak2 (lagi?)<BR><BR>Mari kita buktikan :<BR><BR>1. "Aku seorang kapiten... mempunyai pedang panjang...  kalo berjalan prok..prok..prok... aku seorang kapiten!"<BR>    Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya  (inkonsistensi). Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi :     "mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)... kalo berjalan prok..prok..prok.." nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi :    "mempunyai pedang panjang... kalo ber-  jalan ndul..gondal..gandul.. atau srek.. srek.. srek.."     itu baru sesuai dg kondisi pedang<BR>panjangnya!<BR><BR>2. "Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku.."<BR>    Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!<BR><BR>3. "Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X"<BR>   Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi  kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!<BR><BR>4. "Naik kereta api tut..tut..tut.. siapa hendak turut ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan percuma..  ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama"<BR>  Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa   maunya gratis melulu. Pantesan PT. KAI rugi terus! terutama jalur   Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya!<BR><BR>5. "Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2  sambil bernyanyi tri li<BR>li..li..li..li..li.."   Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada  anak2 akan realita yg   sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit..cuit..!   kalo tri li li li li  itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!<BR><BR>6. "Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi,  kalo malam minum susu.."<BR>   Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!<BR>]]></description><pubDate>Wed, 07 Feb 2007 13:39:08 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/02/07/ngemalar-kerja-ora.html</link></item><item><title>point</title><description><![CDATA[POINT OF VIEW<BR><BR> <BR><BR> <BR><BR>Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang<BR>berpergian naik pesawat ke Jakarta.<BR> Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.<BR>Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.<BR><BR>" Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.<BR><BR>"Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore<BR>nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.<BR><BR>" Wouw..... hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.<BR>Pemuda itu merenung.<BR>Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan<BR>pertanyaannya.<BR><BR>" Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu??<BR>Bagaimana dengan kakak-adik adik nya??"<BR><BR>"Oh ya tentu.." si Ibu bercerita :<BR>"Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang,<BR> yang keempat kerja di Perkebunan di Lampung,<BR>yang kelima menjadi arsitek di Jakarta,<BR>yang keenam menjadi kepala cabang bank di<BR>Purwokerto,<BR>yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.""<BR><BR>Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan<BR>sangat<BR>baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.<BR><BR>"terus bagaimana dengan anak pertama Ibu ??"<BR><BR>Sambil menghela napas panjang, Ibu itu menjawab,<BR>"Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak,<BR>Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar "<BR><BR>Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... sepertinya Ibu agak kecewa ya<BR>dengan anak pertama Ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses<BR>di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani?"<BR><BR><BR><BR>Do you want to know the answer...??????<BR><BR><BR><BR>Please scroll...<BR><BR><BR><BR><BR>Please scroll..<BR><BR> <BR><BR> <BR><BR><BR><BR><BR><BR><BR>Dengan tersenyum Ibu itu menjawab,<BR><BR>" Ooo... tidak.. tidak begitu Nak....<BR>Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang<BR>membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"<BR><BR><BR><BR>Today's lesson :<BR><BR><BR><BR>Everybody in the world is an important person.<BR><BR>Open your eyes. ...your heart....your mind....your point of view<BR><BR>because we can't make summary before read "the book" completely.<BR><BR>The wise person says...The more important thing is not WHO YOU ARE<BR><BR>But WHAT YOU HAVE BEEN DOING.<BR><BR><BR> <BR><BR><BR>]]></description><pubDate>Wed, 07 Feb 2007 13:33:34 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/02/07/point.html</link></item><item><title>humor-005</title><description><![CDATA[<BR><BR>Beda BOSS dan Staff<BR><BR><BR><BR> <BR><BR><BR>Bila boss tetap pada pendapatnya,<BR>itu berarti beliau konsisten.<BR>Bila staff tetap pada pendapatnya,<BR>itu berarti dia keras kepala !<BR><BR>Bila boss berubah-ubah pendapat,<BR>itu berarti beliau flexible.<BR>Bila staff berubah-ubah pendapat,<BR>itu berarti dia plin-plan !<BR><BR>Bila boss bekerja lambat,<BR>itu berarti beliau teliti.<BR>Bila staff bekerja lambat<BR>itu berarti dia tidak 'perform' !<BR><BR>Bila boss bekerja cepat,<BR>itu berarti beliau 'smart'.<BR>Bila staff bekerja cepat,<BR>itu berarti dia terburu-buru !<BR><BR>Bila boss lambat memutuskan,<BR>itu berarti beliau hati-hati.<BR>Bila staff lambat memutuskan,<BR>itu berarti dia 'telmi' !<BR><BR>Bila boss mengambil keputusan cepat,<BR>itu berarti beliau berani mengambil keputusan.<BR>Bila staff mengambil keputusan cepat,<BR>itu berarti dia gegabah !<BR><BR>Bila boss terlalu berani ambil resiko,<BR>itu berarti beliau risk-taking.<BR>Bila staff terlalu berani ambil resiko,<BR>itu berarti dia sembrono !<BR><BR><BR> <BR><BR><BR>Bila boss tidak berani ambil resiko,<BR>itu berarti beliau 'prudent'.<BR>Bila staff tidak berani ambil resiko,<BR>itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !<BR><BR>Bila boss mem-by-pass prosedur,<BR>itu berarti beliau proaktif-inovatif.<BR>Bila staff mem-by-pass prosedur,<BR>itu berarti dia melanggar aturan !<BR><BR>Bila boss curiga terhadap mitra bisnis,<BR>itu berarti beliau waspada.<BR>Bila staff curiga terhadap mitra bisnis,<BR>itu berarti dia negative thinking !<BR><BR>Bila boss menyatakan : " Sulit "<BR>itu berarti beliau prediktif-antisipatif.<BR>Bila staff menyatakan : " Sulit "<BR>itu berarti dia pesimistik !<BR><BR>Bila boss menyatakan : " Mudah "<BR>itu berarti beliau optimis.<BR>Bila staff menyatakan : " Mudah "<BR>itu berarti dia meremehkan masalah !<BR><BR>Bila boss sering keluar kantor,<BR>itu berarti beliau rajin ke customer<BR>Bila staff sering keluar kantor,<BR>itu berarti dia sering kelayapan !<BR><BR>Bila boss sering entertainment,<BR>itu berarti beliau rajin me-lobby customer.<BR>Bila staff sering entertainment,<BR>itu berarti dia menghamburkan anggaran !<BR><BR><BR> <BR><BR><BR>Bila boss tidak pernah entertainment,<BR>itu berarti beliau berhemat.<BR>Bila staff tidak pernah entertainment,<BR>itu berarti dia tidak bisa me-lobby customer !<BR><BR>Bila boss men-service atasan,<BR>itu berarti beliau me-lobby.<BR>Bila staff men-service atasan,<BR>itu berarti dia menjilat !<BR><BR>Bila boss sering tidak masuk,<BR>itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.<BR>Bila staff sering tidak masuk,<BR>itu berarti dia pemalas !<BR><BR>Bila boss minta fasilitas mewah,<BR>itu berarti beliau menjaga citra perusahaan.<BR>Bila staff minta fasilitas standar,<BR>itu berarti dia banyak menuntut !<BR><BR>Bila boss membuat tulisan seperti ini,<BR>itu berarti beliau humoris.<BR>Bila staff membuat tulisan seperti ini,<BR>itu berarti dia :<BR>- frustasi<BR>- iri thd karir orang lain<BR>- negative thinking<BR>- provokasi<BR>- tidak tahan banting<BR>- barisan sakit hati<BR>- berpolitik di kantor<BR>- tidak produktif<BR>- tidak sesuai dengan budaya perusahaan<BR><BR><BR><BR> <BR>]]></description><pubDate>Wed, 07 Feb 2007 13:32:01 +0530</pubDate><link>http://boscohariyono.rediffiland.com/blogs/2007/02/07/humor-005.html</link></item></channel></rss>